Postingan

Hari Setelah Esok

Aku kembali saat kota ini sudah terlelap. Hanya sinar bulan menerobos masuk diantara pohon-pohon rimbun ditepi jalan. Debu jalan bertebaran menyeruak ke atas, terhempas, ke atas, terhempas dan begitulah seterusnya. sebuah siklus yang monoton dikala panas menyerang khatulistiwa. Kecuali jika hujan berbondong-bondong dengan tak sabar ingin menyiramnya. Saat itulah aku tertawa, tertawa karena alam ternyata seperti hidup. Semua akan berubah pada saatnya. Ingin aku kembali ke masa lalu. Tapi aku yakin bukan hanya aku yang ingin seperti itu. Rasanya tak adil jika Tuhan hanya mengabulkan doaku sedangkan jutaan orang disana terus mengeluh dengan kening yang hitam karena terkikis sajadah yang mulai aus. Terlalu naif memang jika aku ingin kembali. Aku teringat akan sebaris kata yang pernah diucapkan seseorang yang pernah kukagumi dahulu. "Waktu bisa dipecahkan jika ada sesuatu yang melebihi kecepatan cahaya". Itu memang hanya sebuah teori, tapi tahukah, kalau banyak orang diluar sana ...

Doa Pesakitan

Emha Ainun Nadjib GUSTI, seperti kapan saja kami para hamba tak berada di mana-mana melainkan di hadapan-Mu jua ini sangat sederhana tetapi kami sering lupa sebab mengalahkan musuh-musuh-Mu yang kecil saja, kami tak kuasa GUSTI, inilah tawanan-Mu tak berani menengadahkan muka mripat kami yang terbuka telah lama menjadi buta sebab menyia-nyiakan dirinya dengan hanya menatap hal-hal maya GUSTI, cinta kami kepada Mu tak terperi namun itu tak diketahui oleh diri kami sendiri maka tolong ajarilah kami agar sanggup mengajari diri sendiri menyebut nama-Mu seribu kali sehari karena meski hanya sehuruf saja dari-Mu takkan tertandingi GUSTI, kami berkumpul di sini untuk mengukur keterbatasan kami melontarkan beratus beribu kata seperti buih-buih melayang-layang di udara diisap kembali oleh Maha Telinga sehingga tinggal jiwa kami termangu menunggu ishlah dari Mu agar jadi bening dan tahu malu GUSTI, kami pasrah sepasrah-pasrahnya kami telanjang setelan...

Fajar di Hari Kemenangan

Pernahkah kau dengar suara kicau burung kawan? Bukan, yang aku maksud adalah suara burung seperti pagi ini. Kau sangatlah rugi jika melewatkannya begitu saja. Karna dengan memejamkan mata pun aku bisa merasakan setiap kepakan sayap-sayapnya. Terlebih jika sang jago mulai ambil bagian dalam parade musik pagi ini. Kokokkanya memecah kesunyian pagi, seiring jatuhnya embun dari kelopak mawar yang indah. Sungguh satu pagi yang sempurna. Gema takbir gaduh bertalu-talu mengalun menyayat kalbu. Maaf kalau aku sedikit bercerita, saat ini aku di suatu kota pesisir melayu Kalimantan. Ramadhan baru saja melewatiku dengan cepatnya. Entah Ramadhan yang terlalu cepat, atau aku yang terlalu lambat mengejarnya? Yang jelas terlintas sedikit sesal karena Ramadhan telah berlalu, mungkin harus menunggu 1 tahun lagi untuk sahur, tarawih, dan nikmatnya melepas dahaga saat berbuka. Itupun kalau masih ada masa untuk berjumpa. Kalaupun tidak, tentu kita harus bangga bahwa Ramadhan kali ini salah satu Ramadhan y...

Puisi Terakhir Rendra

Aku lemas Tapi berdaya Aku tidak sambat rasa sakit atau gatal Aku pengin makan tajin Aku tidak pernah sesak nafas Tapi tubuhku tidak memuaskan untuk punya posisi yang ideal dan wajar Aku pengin membersihkan tubuhku dari racun kimiawi Aku ingin kembali pada jalan alam Aku ingin meningkatkan pengabdian kepada Allah Tuhan, aku cinta padamu

Pencari Tuhan

Dari Jalaludin Rumi Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka, maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan. Begitulah caranya! Jika engkau hanya mampu merangkak, maka merangkaklah kepada-Nya! Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk, maka tetaplah persembahkan doamu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan; karena Tuhan, dengan rahmat-Nya akan tetap menerima mata uang palsumu! Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan mengenai Tuhan, maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja. Begitulah caranya! Wahai pejalan! Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji, ayolah datang, dan datanglah lagi! Karena Tuhan telah berfirman: “Ketika engkau melambung ke angkasa ataupun terpuruk ke dalam jurang, ingatlah kepada-Ku, karena Aku-lah jalan itu.”