Hari Setelah Esok
Aku kembali saat kota ini sudah terlelap. Hanya sinar bulan menerobos masuk diantara pohon-pohon rimbun ditepi jalan. Debu jalan bertebaran menyeruak ke atas, terhempas, ke atas, terhempas dan begitulah seterusnya. sebuah siklus yang monoton dikala panas menyerang khatulistiwa. Kecuali jika hujan berbondong-bondong dengan tak sabar ingin menyiramnya. Saat itulah aku tertawa, tertawa karena alam ternyata seperti hidup. Semua akan berubah pada saatnya. Ingin aku kembali ke masa lalu. Tapi aku yakin bukan hanya aku yang ingin seperti itu. Rasanya tak adil jika Tuhan hanya mengabulkan doaku sedangkan jutaan orang disana terus mengeluh dengan kening yang hitam karena terkikis sajadah yang mulai aus. Terlalu naif memang jika aku ingin kembali. Aku teringat akan sebaris kata yang pernah diucapkan seseorang yang pernah kukagumi dahulu. "Waktu bisa dipecahkan jika ada sesuatu yang melebihi kecepatan cahaya". Itu memang hanya sebuah teori, tapi tahukah, kalau banyak orang diluar sana ...