Aku Merindumu secara Membabi Buta
Tak ada sunyi yang abadi tanpa dipeluk puisi. Rindu ku subur disiram diksi demi diksi yang menari dalam ruang imaji. Katakanlah wahai Puan penunggang malamku yang lirih: bahagiakah kau menyiksaku lewat senyum yang kau batasi tak kurang dari 7 senti? Aku menuntut kau bertanggung jawab atas semua kebodohan ini; bodoh karena terjaga, bodoh karena mau-maunya dijajah rasa gila karena sebelum tidur kau berkata - aku rindu, itu saja. Aku geram karena kau tak paham sebab tangan ini keram dan ingin menggenggam.