Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

Aku Merindumu secara Membabi Buta

Tak ada sunyi yang abadi tanpa dipeluk puisi. Rindu ku subur disiram diksi demi diksi yang menari dalam ruang imaji. Katakanlah wahai Puan penunggang malamku yang lirih: bahagiakah kau menyiksaku lewat senyum yang kau batasi tak kurang dari 7 senti? Aku menuntut kau bertanggung jawab atas semua kebodohan ini; bodoh karena terjaga, bodoh karena mau-maunya dijajah rasa gila karena sebelum tidur kau berkata - aku rindu, itu saja. Aku geram karena kau tak paham sebab tangan ini keram dan ingin menggenggam.

Sebuah Rindu dalam Waktu

1. Empat meter di hadapanku, malam pukul tujuh, sebuah kantin yang riuh. Aku masih ingat saat itu. Kita dipertemukan sekumpulan raga, tak banyak kata kecuali gelak tawa dalam dogma. Aku bersama cangkir kopi dengan gula, dan aku lupa kau memesan apa. Aku hanya kagum, ternyata ada wanita dengan atasan batik dan bawahan kain yang suka terenyum, menyembunyikan lelah setelah jauh menjelajah. Aku tegaskan sekali lagi, aku hanya kagum, tidak lebih. Selang beberapa waktu, kau akhirnya berlalu. Di dadaku bersarang sesuatu, kelak ku tahu namanya rindu. Masih kecil, satu per seribu.