Sebuah Rindu dalam Waktu

1.

Empat meter di hadapanku, malam pukul tujuh, sebuah kantin yang riuh. Aku masih ingat saat itu. Kita dipertemukan sekumpulan raga, tak banyak kata kecuali gelak tawa dalam dogma. Aku bersama cangkir kopi dengan gula, dan aku lupa kau memesan apa. Aku hanya kagum, ternyata ada wanita dengan atasan batik dan bawahan kain yang suka terenyum, menyembunyikan lelah setelah jauh menjelajah. Aku tegaskan sekali lagi, aku hanya kagum, tidak lebih. Selang beberapa waktu, kau akhirnya berlalu. Di dadaku bersarang sesuatu, kelak ku tahu namanya rindu. Masih kecil, satu per seribu.



2.

Aku juga ingat suatu sore yang hangat. Kau memberiku snack kecil dalam kemasan. Bentuk perhatian atau tanda pertemanan aku juga tidak memperhatikan. Yang aku tahu, tiga hari kubiarkan begitu saja. Setiap kali ingin kubuka, aku selalu melihat tanggal kadaluarsa. Masih lama, aku tersenyum bahagia. Saat itu aku sadar, aku mulai gila.

Dalam kendaraan yang berpenumpang dua puluh itu aku mencoba mengharu biru. Aku hanya mencoba mengintip senyummu dari kursi paling belakang. Dadaku resah, seraya berkata “Semoga kau tak jatuh cinta.” Dan benar saja, sepanjang perjalanan kau asik berdua. Bahkan sampai terakhir kali aku mengirim senyum untuk berpisah, kau memalingkan muka. Aku lega sekaligus gelisah. Rinduku tumbuh, sepuluh per seribu.


3.

Spedometer kuda besiku mati, aku tak paham seberapa kencang siang itu berlari. Di belakangku sebuah raga bercerita tanpa henti. Dalam desau angin suara itu bertaburan berhamburan. Ada maklum yang aku tanggung di tiap senyum. Ada lirik puisi dalam matamu yang tak bisa kubaca saat itu. Tiba-tiba saja, bangunan tua penuh anak-anak berkopiah itu sejuk. Dan entah mengapa perasaan itu memelukku tanpa kata-kata. Aku kelu, rinduku seratus per seribu.


4.


Kuikuti laju waktu. Sepanjang hari di pesisir pantai kuseru namamu lirih diantara terjaga dan terpejam. Hingga pagi itu kita mengejar matahari bersama dalam rona jingga mulai mengikis embun dan dingin sedikit demi sedikit yang mebuat kita berhenti bicara untuk menikmati segalanya. Tak ada lagi hari Minggu dalam diriku, semuanya melulu mukjizat yang kutafsir sebagai nikmat. Perpaduan yang indah bukan? Pantai, Fajar, dan Kamu. Ku lihat pantulan wajahku dalam biru cermin air laut, aku termanggu. Detak jantungku ditabuh oleh sebuah perasaan itu. Penuh sudah rindu, seribu per seribu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan (lagi...)

Negeri yang Gemar Berisik