Pontianak Merindukan Hujan
L angit Pontianak menguning seperti kabar, matahari menggantung malas di balik asap yang tegar. Bukan lembayung, bukan arunika yang benar, hanya rimba yang terbakar, dan kota yang dipaksa belajar bernapas dengan sabar. Di televisi, para pejabat bicara dengan gagah, ada helikopter, ada water bombing , ada hujan buatan yang indah. Konon semua bergerak, semua bekerja, semua sigap menjaga negara. Lucunya, api belum juga membaca surat edaran dan pidato mereka. Kapuas sudah mengering tak tersisa, sementara langit kehilangan warna. Anak-anak belajar dari balik jendela, tetangga menutup pintu rapat-rapat di rumahnya, dan kita mulai menghafal angka kualitas udara seperti menghafal doa sebelum tidur malam tiba. Di negeri yang katanya kaya raya, kita justru menunggu sesuatu yang sederhana: hujan. Bukan konferensi, bukan seremoni, bukan foto dengan rompi dan sepatu tinggi, bukan pula janji bahwa semuanya terkendali. Kami hanya ingin rinai. Sebab di luar sana, media asing mulai bertanya-tanya: meng...