Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Pontianak Merindukan Hujan

L angit Pontianak menguning seperti kabar, matahari menggantung malas di balik asap yang tegar. Bukan lembayung, bukan arunika yang benar, hanya rimba yang terbakar, dan kota yang dipaksa belajar bernapas dengan sabar. Di televisi, para pejabat bicara dengan gagah, ada helikopter, ada water bombing , ada hujan buatan yang indah. Konon semua bergerak, semua bekerja, semua sigap menjaga negara. Lucunya, api belum juga membaca surat edaran dan pidato mereka. Kapuas sudah mengering tak tersisa, sementara langit kehilangan warna. Anak-anak belajar dari balik jendela, tetangga menutup pintu rapat-rapat di rumahnya, dan kita mulai menghafal angka kualitas udara seperti menghafal doa sebelum tidur malam tiba. Di negeri yang katanya kaya raya, kita justru menunggu sesuatu yang sederhana: hujan. Bukan konferensi, bukan seremoni, bukan foto dengan rompi dan sepatu tinggi, bukan pula janji bahwa semuanya terkendali. Kami hanya ingin rinai. Sebab di luar sana, media asing mulai bertanya-tanya: meng...

Satu Tepian, Dua Kehilangan

K ita pernah duduk di tepian Kapuas, ketika senja belum lekas mengemas cahaya, dan angin Pontianak berembus perlahan, seolah tahu kita sedang menyimpan sebuah masa depan yang ingin kita pertahankan. Kau di sebelahku, aku di sebelahmu, dua kepala penuh rencana, dua dada penuh percaya, dua manusia yang mengira cinta akan selalu menemukan jalannya. Kita bicara tentang rumah, tentang halaman, tentang pernikahan, tentang hari tua yang waktu itu terasa masih terlalu jauh untuk tiba. Lalu hujan datang. Rinainya jatuh pelan, menyentuh sungai, menyentuh badan, membuat Kapuas berkerut perlahan, seperti langit yang sedang menyimpan sebuah firasat kehilangan. Kau tertawa. Aku masih ingat suaramu yang pecah di antara derai, dan aku masih ingat bagaimana kau mendekat karena udara mulai dingin, sementara dadaku diam-diam menyimpan ingin Kapuas masih mengalir, perahu-perahu masih berlayar, lampu-lampu masih berpendar, dan orang-orang masih berkelakar Beberapa membawa seseorang untuk digenggam atau ber...

Sinkronisasi yang Tak Terlihat

M alam tidak pernah bertanya siapa yang lebih dulu berdoa. Ia hanya mematikan lampu di beberapa rumah, menyisakan kunang-kunang di atas sajadah orang-orang yang sedang meminta. Di kamarmu, mungkin ada tangan yang sedang menengadah. Di kamarku, ada tangan lain yang melakukan hal serupa. Lucunya, dua telapak berbeda sedang mengirimkan alamat kepada langit yang sama. Aku tidak tahu apakah doamu menyebut namaku. Aku juga tidak sedang mencuri tahu. Sebab cinta yang hendak dibawa ke pelaminan seharusnya tidak menjadi pencuri rahasia Tuhan. Maka aku memilih memperbaiki hal-hal kecil. Merapikan niat. Menertibkan penghasilan. Mengajari pundak cara memikul tanggung jawab. Menyisihkan ego ke dalam laci yang jarang kubuka. Sebab menikahimu bukan perkara membuat dua nama berdampingan di undangan. Ada ayahmu yang harus diyakinkan. Ada ibumu yang harus ditenangkan. Ada keluargaku yang harus diajak berjalan menuju satu meja. Ada masa depan yang belum mengenal kita, namun sudah menagih k...

Inventaris Musim di Ruang Guru

A ku selalu datang lebih pagi daripada embun yang mulai beranjak pergi meninggalkan daun pucuk merah di halaman sekolah. Kunci ruang guru selalu menjadi bunyi pertama yang kubangunkan. Tak ada yang istimewa. Hanya meja-meja yang masih menyimpan bau tinta isi ulang spidol, lemari arsip yang menua bersama debu, dan kalender yang diam-diam menggerogoti usia kami. Mereka datang satu per satu. Membawa tas. Membawa buku. Membawa wajah. Lalu menyembunyikan cuaca di balik seragam batik. Sebagai kepala sekolah, aku belajar bahwa guru-guru lebih pandai menata senyum daripada menata luka. Di meja dekat jendela, ada seorang guru muda. Belakangan ia lebih sering merapikan kerudung daripada menyusun modul. Matanya berubah menjadi telaga setiap sebuah nama muncul di layar telepon. Aku tak pernah bertanya. karena jatuh cinta tak membutuhkan surat tugas. Di sudut lain, seorang guru kelas lima mengajar pecahan kepada anak-anak, padahal semalam ia baru saja dipecahkan oleh kalimat, ...

Payung yang Tak Pernah Dibuka

Sore itu hujan datang membawa hak yang tak pernah kumiliki. Ia jatuh di bahumu tanpa meminta izin. Sedang aku, bahkan namamu harus kusebut diam-diam di dalam dada. Aku cemburu. Bukan kepada lelaki yang menggenggam tanganmu. Aku cemburu kepada hujan. Sebab ia boleh menyentuh rambutmu, mengembunkan pipimu, lalu pulang tanpa dituduh berlebihan. Sedang aku, mengagumimu dari kejauhan saja, telah dianggap terlalu banyak berharap. Mungkin cemburu adalah musim yang tumbuh di dalam tulang. Tak berbunga. Tak berdaun. Hanya berakar pada kemungkinan yang tak sempat dilahirkan. Aku ingin menjadi petir. Sekali saja. Agar langit mengingat bahwa pernah ada lelaki yang nyaris mengucapkan cinta, namun lidahnya lebih dulu ditelan guntur. Kini, setiap hujan sore terdengar seperti seseorang membaca namamu di dalam kepalaku. Perlahan. Berulang. Tanpa titik. Dan aku, masih menjadi payung yang tak pernah kaubuka. Barangkali, inilah bentuk cinta yang paling sunyi; membiarkan hujan mencium keningmu, sementara a...

Jangan Menjadikanku Penunda Takdir

J ika suatu sore ada lelaki yang datang bersama hujan, jangan sibuk menungguku. Bukalah pintu. Barangkali rinai itu bukan sekadar air. Melainkan cara langit mengantarkan takdirmu ke beranda. Bila lelaki itu datang dengan agama yang menjaganya dari congkak, dengan akhlak yang membuat ibumu rela menitipkan seluruh hidupmu, dengan keluarga yang menjadikan adab lebih tinggi daripada nama, dan dengan rezeki yang tak malu kepada sajadah, terimalah. Jangan tanyakan aku. Jangan sebut namaku di sela-sela istikharahmu. Sebab bisa jadi ia adalah amin dari doa-doamu yang terlalu lama mengembara di antara langit dan sajadah. Sedang aku, barangkali hanya gerimis yang keras kepala meminta awan menunda musim. Aku takut. Bukan takut kehilanganmu. Aku takut cintaku berubah menjadi hujan yang terus-menerus turun, hingga menghalangi langkahmu menuju rumah yang telah disiapkan Tuhan. Aku lebih takut, jika cintaku berubah menjadi iblis yang membisikkan, "Tunggulah ...

Cara Luka Mengenali Luka

J angan mencintaiku karena berharap sembuh. Aku bukan musim semi. Aku hanya hujan sore yang lupa cara reda. Aku melihat matamu. Di sana ada seseorang yang terlalu lama dipaksa berdamai dengan perpisahan. Aneh. Luka rupanya punya aroma. Dan aku menciumnya dari caramu menahan senyum. Percayalah, aku pun bukan lelaki yang datang dengan dada utuh. Ada perempuan yang pernah menjadikan namaku sekadar catatan kaki. Ada hujan yang sejak hari itu tak lagi berani kusapa. Sejak saat itu aku belajar, bahwa patah hati tidak selalu membuat seseorang menangis. Kadang ia hanya mengajarkan cara tertawa tanpa benar-benar bahagia. Lalu kau datang. Membawa mata yang lebih lelah daripada langkahmu. Aku tak bertanya seperti apa lukamu sebab orang yang benar-benar terluka kadang lebih fasih bercerita lewat diamnya. Aku tak berjanji menyembuhkanmu sebab aku juga masih mengumpulkan pecahan-pecahan kisahku dalam kenangan lama. Jika suatu hari kau ingin bersandar, bersandarlah. Bukan karen...

Aku Tak Mau Lagi Menjadi Puisi

  J angan jatuh cinta kepada penulis. Mereka memelihara kenangan lebih tekun daripada memelihara manusia. Baginya, setiap perpisahan bukan akhir. Melainkan lumbung diksi yang dipanen setiap hujan sore mengembunkan kaca jendela. Aku pernah menjadi paragraf di buku seseorang. Ia menandai tawaku dengan tinta yang tak pernah kering. Menghafal lekuk suaraku seperti hujan menghafal bau tanah setiap kali pulang. Lalu suatu sore, hujan turun lebih lama daripada pelukan. Kita memilih diam. Dan diam, ternyata lebih fasih mengucapkan selamat tinggal. Sejak hari itu, aku takut kepada hujan sore. Sebab setiap rinainya selalu menemukan halaman yang pernah memuat namaku. Aku tak lagi percaya kepada penulis. Mereka pandai menyulap perempuan menjadi hujan, mengubah perpisahan menjadi senja, lalu menjualnya sebagai puisi. Pembaca menangis. Sedang tokoh di dalamnya tak pernah diberi kesempatan untuk sembuh. Aku tak ingin lagi menjadi puisi. Aku ingin menjadi hal yang lupa d...

Anatomi Hujan yang Gagal Menjadi Sungai

H ujan sedang belajar menjadi liang. Ia menjahit langit dengan benang-benang air, lalu mengubur suara petir ke dalam akar-akar yang lupa cara memanggil matahari. Aku berdiri di ambang jendela. Tubuhku hanya alamat sementara. Yang benar-benar tinggal adalah riuh yang mengendap di belakang tulang rusuk. Barangkali keputusasaan bukan seekor burung. Ia lebih menyerupai lumut; tumbuh pada dinding-dinding batin yang terlalu lama tak disinggahi cahaya. Malam mengunyah jam. Waktu menjadi serpih kaca yang diam-diam berbiak di telapak langkah. Aku tertawa. Sebab tangis telah lebih dahulu kehabisan bentuk. Bukankah puncak kesedihan adalah ketika air mata kehilangan pekerjaannya? Maka mulutlah yang ditugaskan menjadi kuburan. Orang-orang menyebutnya tawa. Aku menyebutnya cara paling sopan untuk menyembunyikan reruntuhan. Sedangkan hujan, ia terus jatuh tanpa pernah dituduh lemah. Tak ada langit yang menyuruhnya berhenti menjadi basah. Tak ada awan yang menghakimi ...

Sebelum Namaku Menjadi Doa

B arangkali, tak ada yang benar-benar siap menjadi kenangan. Termasuk aku. Maka sebelum namaku lebih sering disebut dalam doa daripada percakapan, izinkan aku menitipkan beberapa maaf. Kepada Ayah, maaf. Aku belum sempat menjadi lelaki yang membuat pundakmu lebih ringan. Aku masih sering tersesat di dalam kepalaku sendiri. Kepada Ibu, maaf. Aku terlalu lihai mengucapkan, "Aku baik-baik saja." Padahal Ibu selalu tahu bahwa mata lebih jujur daripada mulut. Kepada teman-teman, terima kasih karena pernah percaya bahwa tawaku adalah pertanda bahagia. Maaf, aku terlalu sering mengubur gelisah sendirian. Bukan karena tak mempercayai kalian. Aku hanya takut, lukaku ikut merepotkan hidup orang lain. Kepada orang yang pernah mencintaiku, maaf. Aku terlalu sibuk menjadi tempat berteduh, hingga lupa bahwa rumah pun sesekali butuh dipeluk. Dan kepada mereka yang memilih pergi, terima kasih. Kalian mengajarkan bahwa kehilangan tak selalu datang untuk menghukum. Ka...

Jika Besok Aku Mati

J ika besok aku mati, barangkali hujan akan datang lebih awal dari biasanya. Ia mengetuk jendela rumahku seperti seseorang yang terlambat mengucapkan maaf. Jangan menangis terlalu lama. Air mata selalu kalah deras dibanding hujan yang tak pernah lelah mencari bumi. Jika besok aku mati, tolong jangan buru-buru melupakan suaraku. Biarkan ia tinggal sebentar di sela-sela lagu yang pernah kita dengarkan ketika dunia belum pandai memisahkan. Aku pernah mencintai dengan cara yang berisik. Terlalu banyak doa. Terlalu banyak harap. Terlalu sedikit berani. Mungkin itu sebabnya semesta lebih dulu mengajariku kehilangan. Jika nanti kau melihat hujan menggantung di ujung senja, jangan mengira aku sedang pulang. Aku hanya ingin menitipkan satu kenangan, bahwa pernah ada seseorang yang menghafal caramu tertawa, lebih tekun daripada ia menghafal jalan pulang. Dan bila namaku sesekali singgah di kepalamu, jangan jadikan aku sebagai luka. Jadikan saja seperti hujan. Datan...

Hujan yang Menolak Menguburkanku

M alam ini hujan lebih pandai menangis dariku. Ia mengetuk genting seolah tahu bahwa isi kepalaku lebih gaduh daripada gemuruh langit. Aku lelaki. Katanya, lelaki tak boleh banyak mengeluh. Maka kutelan utang yang belum lunas, pekerjaan yang tak kunjung memberi jeda, dan cinta yang selalu menemukan alasan untuk pergi. Aneh. Dompetku semakin tipis. Lingkar mataku semakin tebal. Sedang senyumku, entah sejak kapan, berhenti pulang. Orang-orang berkata, "Sabar." Seolah sabar bisa membayar cicilan. Seolah doa selalu datang bersama tanggal gajian. Hujan makin deras. Aku berdiri di depan jendela. Membayangkan, betapa mudahnya menghilang. Betapa sunyinya jika besok tak ada lagi namaku dipanggil. Lalu petir menyela. Seakan langit tak setuju. Aku sadar, bahkan hujan yang jatuh berkali-kali tak pernah memilih mati di udara. Ia tetap jatuh ke bumi, lalu menghidupi hal-hal yang bahkan tak pernah mengucapkan terima kasih. Barangkali aku juga harus b...

Empat Belas Tahun yang Tak Pandai Berhitung

U siaku tiga puluh enam. Kalau cinta ini proyek, barangkali sudah gagal di meja verifikasi. Kau dua puluh dua. Masih hafal lirik lagu-lagu baru. Sedang aku lebih hafal nomor BPJS daripada chorus. Katanya, aku terlalu tua. Lucu. Padahal yang paling tua bukan usiaku. Melainkan pikiran orang-orang yang sibuk menjadi notaris atas perasaan orang lain. Temanku bertanya, "Kau serius?" Aku bilang, "Tidak." Lalu setiap malam aku memeriksa ponsel lebih sering daripada memeriksa saldo. Beginilah lelaki. Kalau jatuh cinta, umur pensiun bisa mendadak menjadi masa orientasi. Aku pernah mencoba bersikap dewasa di depanmu. Gagal. Kau tertawa sedikit saja, harga diriku langsung diskon besar-besaran. Aku tahu. Kalau nanti kita berjalan berdua, orang-orang mungkin mengira aku dosenmu. Atau ommu. Atau sales asuransi yang terlalu ramah. Tak apa. Biar saja. Aku lebih takut kau memanggilku "Pak." Daripada kau tak memanggilku sama sekali. Kalau akhirnya...

Tuhan Tersenyum Kecut

K ita pernah tinggal serumah. Berbagi tagihan listrik, beras lima kilo, dan mimpi yang ukurannya lebih besar daripada ruang tamu. Kau hafal cara aku tidur. Aku hafal cara kau marah ketika odol kupencet dari tengah. Kita pernah bertengkar karena garam, lalu berdamai karena hujan. Begitulah cinta. Sering kali lebih takut kehilangan daripada kehilangan itu sendiri. Lucunya, kita tak pernah kalah oleh orang ketiga. Yang mengalahkan kita adalah kolom "Agama" . Betapa aneh. Kita bisa tidur di bantal yang sama, tetapi tak bisa berdiri di pelaminan yang sama. Kita bisa saling menghafal detak jantung, tetapi gagal menghafal doa yang berbeda arah. Aku sering membayangkan, barangkali Tuhan sedang tersenyum kecut melihat dua manusia yang sama-sama percaya kepada-Nya, tetapi gagal percaya pada cinta ciptaan-Nya sendiri. Besok aku akan pergi. Mungkin kepada perempuan yang seiman. Kau pun akan menemukan lelaki yang bisa diterima di meja makan keluargamu...

Jangan Lupa Menghapus Namaku

K udengar bulan depan kau akan menikah. Selamat. Semoga penghulu tak gugup menyebut namamu. Sebab dulu, aku lebih sering menyebutnya dalam doa daripada di depan orang. Aku tak akan datang. Aku takut pengantin priamu menyalamiku terlalu erat. Padahal kita sama-sama tahu, aku pernah lebih dulu menggenggam hidupmu. Bahkan, pada malam ketika cinta kelewat percaya diri, kita pernah bersenggama. Lucu ya. Yang paling mudah dihapus ternyata foto-foto. Yang paling sulit adalah sprei di kepala. Kalau nanti suamimu bertanya, "Apa kau pernah mencintai orang lain?" Jangan bohong. Bilang saja, "Pernah." Kalau ia bertanya lagi, "Sejauh apa?" Tersenyumlah. Tak semua sejarah harus dijelaskan di atas ranjang baru. Tenang. Aku tak akan merusak resepsimu. Aku cuma berharap, saat kalian mengucap "hingga maut memisahkan," jangan ada satu detik pun kau teringat bahwa tubuhmu pernah lebih hafal jalan pulang ke pelukanku. Selamat berbahagia. Aku akan belajar menjadi mant...

Negeri yang Gemar Berisik

P agi belum benar-benar jadi pagi Ketika layar telepon lebih dulu mengabarkan siapa yang ditangkap, siapa yang menyangkal, dan siapa yang kembali menggelar konferensi pers. Aku menyeduh kopi. Rasanya masih sama. Yang berubah hanya berita yang setiap hari berlomba menjadi lebih aneh. Di negeri ini, koruptor kadang lebih sering muncul daripada petani. Pejabat lebih pandai menjelaskan daripada mendengarkan. Sedangkan rakyat, tetap setia menghafal cara bertahan hidup. Aku membuka jendela. Burung-burung masih berkicau. Barangkali mereka belum mengenal siaran langsung. Atau mungkin mereka sengaja tak mau ikut rapat. Di televisi, seorang pemimpin kembali berbicara. Kalimatnya panjang. Tepuk tangannya lebih panjang. Aku mencoba mengerti. Barangkali yang kurang bukan telingaku, melainkan keberanian untuk bertanya. Harga-harga naik perlahan. Harapan turun diam-diam. Lucunya, yang paling sering diminta tetap satu: "Sabar." Seolah sabar bisa ditanak menjadi nasi. Seolah ikhlas bisa dibay...

Hujan Tak Pakai Kutang

H ujan datang tanpa permisi. Ia membuka satu-satu kancing sore yang sejak siang kelewat sopan. Jalanan basah. Trotoar mulai genit. Aspal mengilat seperti bibir perempuan habis menggigit kopi. Aku melihatmu berdiri di bawah halte, membiarkan rambutmu berunding dengan rinai. "Tak dingin?" Kau hanya tersenyum. Senyummu itu, astaga... lebih telanjang daripada hujan. Payung yang kubawa akhirnya cuma jadi properti. Sebab yang ingin kubasahi bukan bajumu. Melainkan jarak yang sejak lama terlalu pandai berpura-pura suci. Hujan memang bajingan. Ia selalu tahu bagaimana membuat dua orang yang saling mencintai lupa siapa yang lebih dulu ingin pulang.

Singgah

K atamu, rasa percayamu tak lagi tahu ke mana harus pulang. Barangkali, akulah alamat yang membuatnya tersesat. Maaf, jika kepergianku mengajarkan malam cara membuatmu lebih dingin dari biasanya. Namun percayalah, bukan karena aku tak lagi menyimpan rasa. Hanya saja, tak semua cinta mampu menang melawan keadaan. Jika suatu hari kau masih menatap rembulan, jangan lagi mencariku di sana. Carilah dirimu sendiri. Sebab duka boleh saja tinggal. Namun lara, tak pantas kau pelihara

Niraksara

H ujan tak sedang menyiksamu. Ia hanya membacakan niraksara yang tak pernah sempat kau eja. Tentang rindu yang berubah derana. Tentang cinta yang memilih menjadi purana. Dan tentang kita, yang akhirnya hanya serana. tempat kenangan singgah sebentar, sebelum benar-benar hilang dalam fatamorgana.

Hujan (lagi...)

Ada rinai yang jatuh membawa derana dari langit yang kelelahan. Ia mengetuk genteng, lalu menyelinap ke dada yang belum selesai belajar kehilangan. Desember datang dengan petir yang pandai membuka luka. Mengubur harap hingga akar-akarnya, menyisakan tanah yang enggan ditumbuhi bahagia. Hujan, mengapa kau selalu memilih waktu ketika aku hampir berhasil melupakan? Kau siram jalan-jalan yang pernah kami lewati, kau basahi bangku yang pernah kami duduki, lalu kau pulangkan semua yang telah susah payah kukuburkan sendiri. Aku pria merdeka yang kehilangan rumah karena terjajah derita. Sedang menata hati yang porak poranda sejak dia pergi. Namun kau datang membawa bau tanah, membawa suara, membawa segala yang dulu kupanggil "kita." Lalu mimpi-mimpi itu kau asah menjadi sembilu. Menusuk perlahan, tanpa darah, tetapi lebih perih daripada luka yang terlihat. Hujan, hari ini aku tidak membencimu. Aku hanya membenci kenyataan bahwa setiap kali kau turun, nam...

Interlude yang Terlupakan

Di rak paling sunyi rumah ini Namamu masih tinggal Seperti debu yang enggan dipindahkan angin Padahal musim telah berkali-kali berganti wajah Aku pernah percaya Bahwa cinta cukup menjadi atap bagi dua jiwa yang kehujanan Namun rupanya Ada yang lebih kaupercayai Daripada sepasang tangan yang selalu pulang kepadamu Kini aku sering duduk Di hadapan secangkir kopi yang mendingin sendiri Memandangi senja yang tak pernah bertanya; Mengapa separuh langit memilih pergi? Barangkali aku hanyalah lelaki Dengan kantong yang tak sempat menandingi impianmu Sedang kau, Memilih jalan yang berkilau Meski harus menanggalkan jejak-jejak kita Tetapi aneh Rindu tidak mengenal hitung-hitungan Ia tetap datang Meski telah tahu sebab kepergianmu Ia tetap mengetuk Meski telah mengerti Bahwa yang kalah bukan cinta melainkan isi dompetnya Malam-malam tertentu Aku masih menemukanmu Di antara bunyi jam yang berjalan lambat Di lipatan bantal yang kehilangan aroma rambutmu Di jendela yang memantulkan bayangan seorang...