Satu Tepian, Dua Kehilangan

Kita pernah duduk di tepian Kapuas,
ketika senja belum lekas mengemas cahaya,
dan angin Pontianak berembus perlahan,
seolah tahu kita sedang menyimpan
sebuah masa depan yang ingin kita pertahankan.

Kau di sebelahku,
aku di sebelahmu,
dua kepala penuh rencana,
dua dada penuh percaya,
dua manusia yang mengira
cinta akan selalu menemukan jalannya.

Kita bicara tentang rumah,
tentang halaman,
tentang pernikahan,
tentang hari tua
yang waktu itu terasa
masih terlalu jauh untuk tiba.

Lalu hujan datang.
Rinainya jatuh pelan,
menyentuh sungai, menyentuh badan,
membuat Kapuas berkerut perlahan,
seperti langit yang sedang menyimpan
sebuah firasat kehilangan.

Kau tertawa.
Aku masih ingat suaramu
yang pecah di antara derai,
dan aku masih ingat bagaimana
kau mendekat karena udara mulai dingin,
sementara dadaku diam-diam menyimpan ingin

Kapuas masih mengalir,
perahu-perahu masih berlayar,
lampu-lampu masih berpendar,
dan orang-orang masih berkelakar
Beberapa membawa seseorang untuk digenggam
atau bersama teman menyambut datangnya malam.

Hanya aku
yang datang tanpa kau.

Aneh.
Tempat ini masih sama,
tetapi rasanya berbeda.

Bangku itu masih menunggu,
sungai itu masih mengalir menuju hilir,
hujan masih tahu kapan harus turun dan berakhir,
hanya kita
yang tidak lagi tahu ke mana harus mengalir.

Dulu,
hujan membuat kita berteduh,
membuat waktu terasa utuh,
membuat dua hati semakin dekat dan teduh.

Sekarang,
hujan justru membuatku ingin menjauh,
sebab setiap rinainya seperti gemuruh riuh
pintu masa lalu yang belum sepenuhnya runtuh.

Aku ingat caramu tertawa,
aku ingat caramu memandang senja,
aku ingat percakapan sederhana
yang dahulu kita kira
akan menjadi cerita sepanjang usia.

Aku ingat kau pernah berkata:
"Suatu hari kita kembali ke sini."
Dan kau benar, aku kembali.
Hanya saja, aku datang sendiri.

Kapuas masih menjadi saksi,
senja masih datang tanpa permisi,
hujan masih jatuh dengan bunyi yang sama sekali,
tetapi cintaku kepadamu tak lagi meminta kembali.

Aku pernah mengira
cinta kita adalah sungai
mengalir,
berputar,
mencari muara,
lalu tiba.

Ternyata tidak semua
yang mengalir akan sampai.
Ada yang kandas di tepian.
Ada yang hilang di perjalanan.
Ada yang menjadi endapan.
Dan ada yang akhirnya hanya tinggal sebagai kenangan.

Aku berdiri.
Hujan telah reda.
Tak ada lagi alasan untuk berteduh.
Kutarik napas panjang,
kupandang Kapuas sekali lagi,
lalu kubiarkan namamu
menjadi bagian dari riuh yang hilang
di antara suara perahu dan malam yang datang.

Aku tidak akan menunggumu.
Tidak lagi.
Sebab akhirnya aku mengerti:

Aku kini sendiri.
Di tepian Kapuas.
Di bawah hujan.
Di antara senja.
Dan di dalam hati yang akhirnya belajar
mengucapkan selamat tinggal tanpa membenci siapa-siapa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan (lagi...)

Negeri yang Gemar Berisik