Sinkronisasi yang Tak Terlihat

Malam tidak pernah bertanya
siapa yang lebih dulu berdoa.
Ia hanya mematikan lampu di beberapa rumah,
menyisakan kunang-kunang
di atas sajadah orang-orang yang sedang meminta.

Di kamarmu,
mungkin ada tangan
yang sedang menengadah.

Di kamarku,
ada tangan lain
yang melakukan hal serupa.

Lucunya,
dua telapak berbeda
sedang mengirimkan alamat
kepada langit yang sama.

Aku tidak tahu
apakah doamu menyebut namaku.
Aku juga tidak sedang
mencuri tahu.

Sebab cinta yang hendak dibawa ke pelaminan
seharusnya tidak menjadi pencuri rahasia Tuhan.
Maka aku memilih memperbaiki hal-hal kecil.
Merapikan niat.
Menertibkan penghasilan.
Mengajari pundak cara memikul tanggung jawab.
Menyisihkan ego ke dalam laci yang jarang kubuka.

Sebab menikahimu
bukan perkara
membuat dua nama berdampingan di undangan.

Ada ayahmu yang harus diyakinkan.
Ada ibumu yang harus ditenangkan.
Ada keluargaku yang harus diajak berjalan menuju satu meja.
Ada masa depan yang belum mengenal kita,
namun sudah menagih kedewasaan.

Dan aku,
lelaki yang masih sering
kalah oleh dirinya sendiri,
sedang belajar menjadi seseorang yang pantas mengetuk pintu rumahmu.

Malam berikutnya
hujan turun.

Aku sedang berdoa
ketika suaranya
memukul genting.

Rinainya seperti
ribuan jari
mengetuk langit.

Aku berhenti sebentar.
Mendengarkan.
Lalu terpikir olehku; begitulah mungkin doa bekerja.

Tidak selalu langsung membuka pintu.
Kadang ia hanya mengetuk berkali-kali
sampai kita sendiri berubah menjadi pintu yang layak dibuka.

Maka jangan hanya
meminta aku kepadamu.
Mintalah juga agar aku menjadi
lelaki yang sanggup menjagamu.

Dan aku akan meminta
agar kau bukan sekadar
perempuan yang kucintai,
tetapi seseorang
yang dengannya aku mampu belajar
menjadi manusia yang lebih baik.

Kita tidak perlu
memburu tanggal.
Biarkan kalender
mengunyah hari-harinya.

Kita kerjakan bagian kita.
Kau dengan doamu.
Aku dengan usahaku.
Keluarga dengan restunya.
Tuhan tidak lupa dengan bagian-Nya.

Sampai suatu malam,
entah setelah hujan
atau setelah sekian lama langit menahan airnya,
seorang lelaki datang ke rumahmu.

Bukan membawa janji yang berisik.
Hanya membawa niat yang sudah selesai
berdebat dengan ketakutan.

Ia duduk
di hadapan ayahmu.
Mengucapkan قَبِلْتُ نِكَاحَهَا وَتَزْوِيجَهَا بِالْمَهْرِ المَذْكُورِ حَالًا
Dan untuk pertama kalinya,
doa yang selama ini
berjalan sendiri-sendiri
menemukan satu frekuensi.

Tidak ada lagi
kau di sana
dan aku di sini.

Tidak ada lagi
dua sajadah
dengan arah yang berbeda.

Hanya dua manusia
yang akhirnya mengerti:

"Pernikahan bukan saat
dua orang berhenti mencari,
melainkan saat dua doa
berhenti saling berselisih
dan memilih menuju
pintu yang sama."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan (lagi...)

Negeri yang Gemar Berisik