Inventaris Musim di Ruang Guru

Aku selalu datang
lebih pagi daripada embun
yang mulai beranjak pergi meninggalkan daun pucuk merah di halaman sekolah.

Kunci ruang guru
selalu menjadi bunyi pertama yang kubangunkan.

Tak ada yang istimewa.

Hanya meja-meja
yang masih menyimpan bau tinta isi ulang spidol,
lemari arsip yang menua bersama debu,
dan kalender
yang diam-diam menggerogoti usia kami.

Mereka datang
satu per satu.

Membawa tas.
Membawa buku.
Membawa wajah.
Lalu menyembunyikan cuaca di balik seragam batik.

Sebagai kepala sekolah,
aku belajar
bahwa guru-guru lebih pandai menata senyum
daripada menata luka.

Di meja dekat jendela,
ada seorang guru muda.
Belakangan
ia lebih sering merapikan kerudung
daripada menyusun modul.
Matanya berubah
menjadi telaga
setiap sebuah nama muncul di layar telepon.
Aku tak pernah bertanya.
karena jatuh cinta
tak membutuhkan surat tugas.

Di sudut lain,
seorang guru kelas lima
mengajar pecahan kepada anak-anak,
padahal semalam
ia baru saja dipecahkan oleh kalimat,
"Kita cukup sampai di sini."
Aneh.
Pagi itu
ia masih mampu
mengajarkan cara menyatukan
pembilang dan penyebut,
sementara dadanya sendiri
tak lagi tahu
bagaimana cara menyatukan kisah yang saban hari disebut dalam sujudnya.

Di meja administrasi,
seorang guru perempuan
menerima telepon.
Tak lama,
ia mematikan suara.
Menghapus air mata.
Membenarkan name tag.
Lalu masuk ke kelas.
Anak-anak tak pernah tahu,
bahwa sebelum mengajarkan huruf pertama,
gurunya
baru saja kehilangan orang pertama yang mengajarinya mengeja kehidupan.

Beberapa hari kemudian,
ruang guru berubah menjadi pesta kecil.
Ada yang lulus P3K.
Ada yang membawa sekotak kue.
Ada tawa.
Ada tepuk tangan.
Ada doa.

Namun di pojok ruangan,
ada seseorang
yang diam-diam menghitung cicilan,
menghitung umur orang tua,
menghitung sisa tenaga yang belum habis diminta hidup.

Aku melihat semuanya.

Tidak sebagai kepala sekolah.
Melainkan sebagai penjaga inventaris musim.

Sebab ruang guru
tak pernah benar-benar berisi manusia.

Ia dipenuhi berbagai cuaca.
Ada yang datang membawa arunika.
Ada yang pulang membawa sandyakala.
Ada yang hidupnya sedang berbunga.

Ada yang kalbunya
ditumbuhi lumut
karena terlalu lama
tak disinggahi kabar baik.

Lucunya,
bel sekolah tak pernah peduli.
Ia tetap berbunyi tepat waktu.

Seolah-olah
tak ada guru yang baru saja
ditinggalkan kekasih.
Tak ada guru yang semalam
menemani ibunya di ruang ICU.
Tak ada guru yang diam-diam
menunggu hasil tes kehamilan.
Tak ada guru yang pulang ke rumah
yang terlalu lengang.

Jam pelajaran tetap dimulai.
Anak-anak tetap tertawa.
Dan papan tulis tetap meminta ditulisi.

Barangkali,
itulah sebabnya
aku tak lagi mengukur guru
dari kelengkapan administrasi.

Aku lebih percaya
kepada mata yang tetap menyala,
meski semalam dipaksa bergulat dengan nestapa.

Aku lebih percaya
kepada langkah yang tetap menuju kelas dengan ceria,
meski kalbunya baru saja dikosongkan oleh durjana.

Sebab menjadi guru,
ternyata bukan sekadar mengajar.

Melainkan
menyembunyikan badai
agar anak-anak tetap percaya
bahwa dunia
adalah tempat yang layak untuk jatuh cinta.

Dan aku...
setiap sore
mengunci kembali
ruang guru itu.

Bukan hanya mengunci pintu.
Melainkan mengunci
puluhan rahasia yang kutemukan
di sela tawa,
di balik map nilai angka merah,
di antara aroma kopi atau matcha,
dan di bawah langit sekolah yang setiap hari berganti musim dan cuaca.

Besok pagi,
aku akan membukanya lagi.

Dan seperti biasa,
mereka akan datang dengan wajah yang telah dipernis.
Seolah semalam,
tak ada hati yang runtuh.

Padahal aku tahu,
di sekolah ini,
yang paling sering
belajar menjadi kuat
bukan murid.

Melainkan
guru-gurunya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan (lagi...)

Negeri yang Gemar Berisik