Payung yang Tak Pernah Dibuka
Sore itu hujan datang membawa hak yang tak pernah kumiliki.
Ia jatuh di bahumu tanpa meminta izin.
Sedang aku,
bahkan namamu harus kusebut diam-diam di dalam dada.
Aku cemburu.
Bukan kepada lelaki yang menggenggam tanganmu.
Aku cemburu kepada hujan.
Sebab ia boleh menyentuh rambutmu, mengembunkan pipimu, lalu pulang tanpa dituduh berlebihan.
Sedang aku,
mengagumimu dari kejauhan saja,
telah dianggap terlalu banyak berharap.
Mungkin
cemburu adalah musim yang tumbuh di dalam tulang.
Tak berbunga.
Tak berdaun.
Hanya berakar pada kemungkinan yang tak sempat dilahirkan.
Aku ingin menjadi petir.
Sekali saja.
Agar langit mengingat bahwa pernah ada lelaki yang nyaris mengucapkan cinta,
namun lidahnya lebih dulu ditelan guntur.
Kini,
setiap hujan sore terdengar seperti seseorang membaca namamu di dalam kepalaku.
Perlahan.
Berulang.
Tanpa titik.
Dan aku,
masih menjadi payung yang tak pernah kaubuka.
Barangkali,
inilah bentuk cinta yang paling sunyi;
membiarkan hujan mencium keningmu,
sementara aku hanya kebagian aroma tanah yang tertinggal.
Sebab tak semua yang jatuh ditakdirkan menyentuh bumi.
Sebagiannya menguap
menjadi doa
yang tak pernah berani mengucapkan amin.
Komentar
Posting Komentar