Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2015

Surat Untuk Fitri

Hai Fitri. Aku bahkan tidak tahu nama lengkapmu. Berapa hari saja kita kenal? Seminggu? Dua minggu? Tiga minggu? Aku bahkan lupa menanyakan dimana rumahmu. Lalu bagaimana aku bisa mengirim surat ini sampai kepadamu. Aku buka akun facebook mu sudah lama tak kau sentuh. Aku juga lupa bagaimana paras wajahmu, karna kita selalu berjumpa malam hari, dibawah sinar lampu kota yang kadang redup kadang mati. Kau juga tak memberi kesan yang berarti ketika kau mulai angkat kaki dari hati ini. Lalu untuk apa aku tulis surat ini?

Untuk Angka 1

Gambar
Hai, Entahlah, aku mungkin sudah hampir gila. 30 menit di depan layar datar 14 inch dengan microsoft word yang bahkan bingung huruf apa mau aku tulis. Ini bakal jadi tulisan teraneh seumur hidupku sebagai penulis. Menulis surat untukmu. Lalu apakah pantas aku memangil “kamu”. Jangan tersinggung, tapi terserahlah jika kau tersinggung. Aku bahkan ragu kau punya perasaan atau tidak. Bahkan kau bukan benda, apalagi manusia. Jika pun benda, kau harus seperti robot yang diberi kecerdasan buatan. Tapi lihatlah dirimu. Kau hanya “angka”. Sekali lagi ANGKA!!! A-EN-GE-KA-A!!! ANGKA!!! Maap jika aku setengah berteriak. Tapi sungguh aku kesal sekali. Aku bingung kesal untuk siapa. Mungkin kepada diriku sendiri. Mengapa mau-maunya aku menerima tantangan bodoh ini. Atau, jika hukumannya pergi ke bulan aku rela menabung dari sekarang daripada melakukan hal gila ini; menulis surat untukmu. KAU PAHAM!!! Oh, Tuhan, aku lupa kau hanya angka. TIDAAAAKKKKK!!!! T_T

Andrea - Raindra

Untuk Andrea Aprilia, di dua pertiga mimpiku tadi pagi. Dalam setiap debar ada rindu yang bergetar setiap membayangkan sore di bangunan tua milik Pemerintah bulan Januari lalu. Aku masih ingat seragam putih abu-abu milikmu basah karena derasnya hujan tak dapat dikendalikan. Aku menatapmu serasa pernah bertemu, serasa itu bukan pertemuan pertama kita. Benar saja, kau adalah adik kelasku ketika SMP. Kau yang mengembalikan hadiah jam tangan yang kuberikan saat ulang tahun temanmu. Dulu aku memang terlalu bodoh untuk jatuh cinta pada dia. Dan aku rasa kebodohanku itu mulai kembali saat melihatmu sore itu. Rasa itu menyergap begitu saja tanpa ampun memenuhi ruang di dada. Dan kau tahu apa yang terjadi setelah sore itu? Aku mulai rindu.

Mie instant, bungkusnya warna kuning, rasa kaldu ayam, dimasak agak kembang, dan sedikit terasa asin.

Entah kenapa aku suka mie instant. Bungkusnya warna kuning, rasa kaldu ayam, dimasak agak kembang, dan sedikit terasa asin. Tidak hanya di situasi tertentu yang mengharuskan aku makan itu. Tapi juga ketika dirumah, saat aku bisa masak apa saja, aku lebih memilih mie instant, bungkusnya warna kuning, rasa kaldu ayam, dimasak agak kembang, dan sedikit terasa asing.

Tuhan kita?

Hari ini ketika kau bilang, tolong doakan saya. Aku baru ingat kalo Tuhan kita beda, Jadi sebenarnya kau menyuruh aku berdoa pada Tuhan yang mana? Tuhanmu, Tuhanku, atau Tuhan kita?

My First Love

Aku pernah membaca tulisan di sebuah blog, dan setelah kupikir-pikir ternyata ada benarnya juga. “Kau berhasil membuat seorang penulis jatuh cinta jika dia bisa menulis sesuatu untukmu.” Begitulah. Tulisan ini untukmu, cinta pertama dan terakhirku. Aku masih ingat saat kita terpaksa harus berteduh di sebuah halte tua karna sepeda motorku tak bisa melindungi derasnya air hujan yang mengantam kita. Separuh badanku basah, begitu juga kau. Bahkan kau sibuk harus melihat dan membongkar isi tasmu hanya untuk memastikan bahwa semua barang bawaan berada dalam keadaan aman. Saat  itu kau cantik sekali, gamis merah jambu yang kubelikan dari gaji pertamaku membuatmu terlihat manis. Itu hari bahagiaku, walau hujan ini terus saja turun tanpa sedikitpun memberikan tanda bahwa ia akan berhenti.