Andrea - Raindra

Untuk Andrea Aprilia, di dua pertiga mimpiku tadi pagi.

Dalam setiap debar ada rindu yang bergetar setiap membayangkan sore di bangunan tua milik Pemerintah bulan Januari lalu. Aku masih ingat seragam putih abu-abu milikmu basah karena derasnya hujan tak dapat dikendalikan. Aku menatapmu serasa pernah bertemu, serasa itu bukan pertemuan pertama kita. Benar saja, kau adalah adik kelasku ketika SMP. Kau yang mengembalikan hadiah jam tangan yang kuberikan saat ulang tahun temanmu. Dulu aku memang terlalu bodoh untuk jatuh cinta pada dia. Dan aku rasa kebodohanku itu mulai kembali saat melihatmu sore itu. Rasa itu menyergap begitu saja tanpa ampun memenuhi ruang di dada. Dan kau tahu apa yang terjadi setelah sore itu? Aku mulai rindu.


Aku mulai mencari tahu siapa gerangan pemilik mata indah itu. Belakangan aku tahu namamu lengkap dengan nomor sepatumu dari seorang teman. Dia terkejut ketika aku menyapanya untuk menanyakan tentangmu waktu itu. Kau tahu apa yang dia lakukan ketika aku menyapanya? Dia menyodorkan selembar lima ribuan. Aku tertawa, pagi itu aku datang bukan untuk memalaknya. Kurasa dia tahu banyak tentangmu karena kalian bertetangga. Dan benar saja, bahkan dia tahu jadwal kau menyapu halaman rumah serta apa warna bajumu setiap hari. Senin-selasa pakai putih abu-abu, rabu-kamis batik sekolah kita, jum’at-sabtu pakaian pramuka. Ku ketok kepalanya dengan buku yang sebelumnya sudah ku gulung menyerupai tongkat baseball seraya berujar, “Kalau itu aku juga tahu, Tompel!!”

Sejak hari itu aku memperhatikan tingkahmu. Hanya saja aku terlalu takut untuk menyapamu, entah apa alasannya. Kurasa aku malu, atau mungkin itulah alasan satu-satunya. Belum pernah aku suka dengan wanita dan tak pernah menggangu ketenangan hidupnya. Dan bukannya aku menyombong, semua wanita itu sudah suka padaku bahkan ketika aku belum menyukainya. Sekarang aku malah terjebak dalam kenyataan bahwa aku jatuh cinta dan tak bisa berbuat apa-apa. Begitulah dirimu dengan segala pesona yang ada mampu membuatku bertekuk lutut tak mampu bicara. Bagaimana bisa seorang aku yang luar biasa, akhirnya kalah dengan rasa dan asa yang hampir membuat pecah kepala.

Baiklah, aku tak mau surat ini terasa seperti surat kaleng tanpa pengirimnya. Kau mungkin juga sudah tau siapa aku. Jika kau belum tau, aku akan memperkenalkan diriku disini. Namaku Raindra Mahardika, Kapten basket sekolah sekaligus Imam besar Fusion Band (Band Sekolah kita). Jika itu saja belum menjelaskan semua, kau bisa datang setiap istirahat sekolah ke warung paling ujung di belakang sekolah. Jangan takut jika kau diganggu disana, bilang saja kau mencari Ketua Geng Secoteng. Secoteng adalah akronim dari Sekumpulan Cowok Ganteng. Memang menggelikan, tapi begitulah kenyataannya. Atau jika kau tak keberatan, pada hari-hari tertentu aku ada di Ruang OSIS SMA kita. Kau bisa mampir kesana, aku bisa pesankan kau Espresso untuk menemanimu bertanya tentang aku lebih jauh. Atau jika kau terlalu gengsi untuk melakukan semua itu, kau bisa menungguku di parkiran paling ujung. Ada motor sport warna biru tua terparkir disana. Jangan heran jika hanya ada sebuah kendaraan disana, bahkan Kepala Sekolah pun berfikir tiga kali untuk menyimpan kendaraan disana jika motorku sedang menenangkan dirinya.

Terserah jika kau mau muntah membaca semua isi surat ini. Aku maklum, mungkin karena kau belum terbiasa. Jika kau bersedia 5 menit saja duduk berdua denganku, aku yakin kau pasti bisa jatuh cinta. Jikapun itu tidak terjadi, berarti kau akan menerima akibatnya; yaitu menerima surat yang serupa setiap hari.

Hei, bolehkah besok pagi aku menjemputmu untuk pergi bersama ke sekolah? Jangan kau tanya bagaimana aku tahu rumahmu, bahkan aku tahu dimana kau menyimpan sepatu dan siapa nama anjing peliharaanmu. Tentu saja dari si Tompel tetanggamu itu yang memberitahu. Jangan kau marahkan dia, dia baik sekali dan aku sudah berjanji takkan memalaknya.

Sekian surat pendekku, kau bisa membalasnya jika mau. Dan jika kau tak bersedia aku ganggu, atas nama rindu aku akan mengabulkannya. Yang harus kau tahu, buku harianku sekarang sudah penuh sekali puisi tentangmu. Bahkan sebagian aku lupa menyimpannya dimana.

Dari Aku, Pengagum Rahasiamu.
Raindra Mahardika

22 November 2007.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan (lagi...)

Negeri yang Gemar Berisik