Surat Untuk Fitri
Hai Fitri.
Aku bahkan tidak tahu nama lengkapmu. Berapa hari saja kita
kenal? Seminggu? Dua minggu? Tiga minggu? Aku bahkan lupa menanyakan dimana
rumahmu. Lalu bagaimana aku bisa mengirim surat ini sampai kepadamu. Aku buka
akun facebookmu sudah lama tak kau
sentuh. Aku juga lupa bagaimana paras wajahmu, karna kita selalu berjumpa malam
hari, dibawah sinar lampu kota yang kadang redup kadang mati. Kau juga tak
memberi kesan yang berarti ketika kau mulai angkat kaki dari hati ini. Lalu
untuk apa aku tulis surat ini?
Jawabannya mungkin tak sebaik yang kau inginkan, tapi
percayalah aku ikhlas menuliskan ini. Setidaknya untuk sebuah trophy. Aku sudah
memilih sebuah hadiah untuk aku menangkan. Dan surat ini adalah salah satu
tiket untuk menjemputnya. Jadi jangan terlalu bermimpi akan ada kata luar biasa
tentang perasaan rindu yang lara dalam surat ini. Itu hanya akan membuat kau
kecewa.
Fitri, andai saja aku ingat kapan kita pertama kali bertemu,
tentu aku akan menjadikan tanggal itu sebagai salah satu tanggal bersejarah
dalam hidupku. Tapi nyatanya aku bahkan lupa kita bertemu di mana waktu itu. Yang
aku ingat hanya suatu sore kau dengan kaos belel abu dan jeans robekmu duduk di
sebuah kursi. Aku menghampirimu, mengajakmu berjabat tangan, kemudian kita
bertukar nomor ponsel. Setelah itu kita hanya terhubung melalui tulisan dalam
pesan singkat yang dikirim oleh jari masing-masing. Eh, apa aku pernah memberi
kau puisi? Kalau ada, berapa banyak atau seringkah? Aku sungguh ingin mengingat
semuanya, tapi semakin aku berusaha semakin aku lupa.
Fitri, jika saja ada perempuan lain yang sangat ingin aku
kirimi surat, sesungguhnya itu bukan kau. Selain akan lebih susah mencari
keberadaanmu sekarang, aku juga tidak tahu harus menulis apa. Ini bukan surat
terbaikku, tapi sekali lagi aku mohon kau percaya, aku sudah sangat berusaha
membuat surat ini sebagus mungkin sehingga layak dibaca. Dan akan aku usahakan kau
tidak terlalu sakit hati mendapat surat ini. Mungkin pertanyaanmu adalah,
apakah kau rindu? Tentu saja aku rindu, tapi maaf bukan untukmu, melainkan
rindu pada ingatanku di masa lalu. Terutama dalam fase yang ada kau sebagai
pemeran utamanya. Itu akan sangat membantu aku menyelesaikan surat ini lebih
cepat.
Sekarang sudah tengah malam. Aku sengaja tidur duluan di
awal malam untuk mempersiapkan saat ini. Aku beradu dengan waktu menulis huruf
demi huruf dalam surat ini supaya semuanya bisa tertata rapi, Aku juga baru
saja kehilangan waktu karna media tempat aku menulis ini kehabisan tenaganya
dan aku harus mengisinya. Sialnya aku sempat lupa dimana aku menyimpannya.
Setelah mengalami pencarian yang cukup melelahkan akhirnya aku ingat bahwa charger itu ternyata tak pernah terlepas
dari colokannya. Bayangkan saja, hal sederhana seperti itu bisa membuatku lupa,
apalagi mencoba mengingatmu yang sudah bertahun-tahun tak bertemu setelah malam
itu kau mengirimkan pesan singkat yang isinya “KITA PUTUS” dan tak kalah
singkat aku membalasnya “IYA”. Cuma itu yang bisa aku ingat, maapkan aku.
Fitri, tak ada maksud mengecilkan dirimu, tapi andai saja aku
punya nomor ponselmu, mungkin malam ini aku akan menelponmu untuk sekedar
bertanya dimana pertemuan kedua kita berlangsung. Aku bahkan lupa berapa kali
kita bertemu. Lalu apakah kita pernah duduk bersama sambil minum kopi? Atau
jangan-jangan kau bukan orang yang suka kopi? Bagaimana mungkin aku bisa jatuh
cinta denganmu dulu? Apa yang membuat aku pernah menjalani kisah cinta denganmu
dulu? Entahlah, kepalaku mulai sakit mengingatnya.
Karena aku mulai bingung mau menulis apa, maka surat ini aku
akhiri. Andai saja aku bisa mengingat lebih banyak tentangmu. Mungkin surat ini
akan sedikit lebih menarik, tapi sekali lagi maapkan aku.
Dari Aku, Mantan Pacarmu yang pelupa.
Komentar
Posting Komentar