Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2016

Pemilik Hati tak Berpenghuni

Rumah Kosong, Sudah lama ingin dihuni. Adalah teman bicara, Siapa saja atau apa. Jendela, kursi, atau bunga di meja, Sunyi menyayat seperti belati. Meminta darah yang mengalir dari mimpi. (Rindu – Subagio Sastrowardoyo)

Senja di Terminal Lama

Aku singgah dari perjalananku menuju desa kelahiran. Sebuah terminal yang sudah beralih fungsi menjadi tempat wisata kuliner jika sore sampai tengah malam. Disini selalu menjadi tempat favorite ku jika melepas lelah. Ada banyak kenangan disini, bahagia tentunya. Siapa saja yang pernah bersamaku disini tahu betul, disini aku selalu gembira. Dari sejak memarkirkan sepeda motor, sampai membayar tukang parkir, tak pernah aku menekuk muka. Entahlah, ini seperti duniaku. Padahal satu pun tak ada yang begitu ku kenal dengan baik disini. Aku seperti melihat banyak cinta disini. Cinta penjual kepada pelanggannya. Cinta pelanggan kepada makanannya. Dan cintaku pada kenangannya.

Drama Keterasingan

Disini, di kota dulu tempat cinta pernah bersemi. Sebuah mimpi hilang dari imaji. Emosi terkuras habis demi mempertahankan posisi. Memunculkan lara dalam banyak prahara. Kemudian kata manis yang pernah terucap di bibir menjadi satir dalam senyum yang getir. Aku terasing dalam keadaan sekitar yang bising. Dan hati kemudian teriak "ayo pulang dan tidur yang nyenyak!" Tapi aku masih bertahan, bertahan untuk sebuah ketidaknyamanan. Lalu, drama terus berjalan... Perlahan... Pelan... Tak tau berakhir kapan.

Siklus?

Aku selalu suka awal tahun. Penuh harapan menapaki beratus-ratus hari penuh ekspektasi. Biasanya aku terjungkal di pertengahan, kemudian beberapa orang memapahku kembali di penghabisan. Kali ini pun tidak ada bedanya. Do'a seperti riam yang tak terbendung, mengalir melewati celah bibir. Menyisakan misteri takdir yang tak pernah tau kapan akan berakhir. Mimpi tak pernah berhenti. Terus membayangi hari-hari yang semakin mendaki. Aku sadar akan satu hal, terjengkal sedikit saja, semua akan berakibat fatal. Lalu kepada kau sang peramal, bisakah kau tahu apa yang akan terjadi padaku tahun ini? Berhasil atau tergelincir? Sedikit saran untukmu, jangan pernah kau fikirkan itu. Tuhan Maha Tahu.

Misteri Tatto Sang Muazin

Dihadapanku ada pria penuh tatto. Dia sibuk dengan pekerjaan barunya; pencuci motor. Sesekali ketika dia menggosok jeruji velg tangannya terjepit. Dan tebak apa yang keluar dari mulutnya? Sebuah kata, iya hanya sebuah kata yang daritadi berusaha saya dengar dengan seksama. Sebuah kata istighfar. "Astaghfirullah" begitulah kira-kira. Kupandangi raut wajahnya lekat-lekat, ternyata orang ini tak asing di mataku. Saban hari aku selalu bertemu dia di masjid terdekat. Dia yang kemarin mempersilahkan aku berwudhu lebih dulu ketika antrian anak-anak mulai memenuhi tempat bersuci itu. Dia juga yang mengumandangkan iqamah pada senja itu. Dan aku rasa suaranya juga sama dengan adzan yang biasa berkumandang, yang membuat aku kadang tak bisa menolak untuk melangkahkan kakiku menuju ke arah dimana suara itu berasal. Suaranya melengking tinggi, jernih, dan memabukkan. Seperti mendengar alunan lagu "She's gone" milik Steel Heart. Aku duga dia bekas rocker. Juga bekas pecand...