Pemilik Hati tak Berpenghuni

Rumah Kosong,
Sudah lama ingin dihuni.
Adalah teman bicara,
Siapa saja atau apa.

Jendela, kursi, atau bunga di meja,
Sunyi menyayat seperti belati.
Meminta darah yang mengalir dari mimpi.

(Rindu – Subagio Sastrowardoyo)


Hei, apa kabar?

Sudah berapa lama kita tak bicara berdua?
Atau saling betukar kabar berita dan saling bertanya sedang apa dan dimana?
Kapan terakhir kali kita mesra dalam rindu yang semakin tak ada ujungnya?
Apa yang membuat kita begitu sangat kuat dengan pendirian masing-masing kita?
Dan kini, semuanya terasa asing. Bahkan jika kita terpaksa duduk berdua, satu meja, dipaksa mesra dalam drama romantika.
Kau sudah dapat jawaban semua pertanyaanku di atas?
Aku sudah.
Jawabannya dulu, saking lamanya aku lupa kapan semua itu terjadi.

Lalu sekarang, mengapa kita sangat betah dengan kesepian yang menyandera?
Tidakkah kau bosan dan berusaha untuk mengakhirinya? Mengakhiri yang sudah-sudah, atau mengakhiri segala derita.
Jengah kah kau dengan bungkam kita yang semakin menjadi saja.
Jika kau bertanya padaku pertanyaan serupa, aku juga sudah punya jawabannya.
Pasti kukatakan, “Aku menikmati semuanya, dan kau tahu aku terlatih untuk bertahan sejauh ini.”
Bahkan jika nanti semua rasa yang sama-sama kita tunggu itu muncul lagi, atau sedikit rasa yang tertinggal ini benar-benar mati.
Aku hanya tak ingin ada yang kecewa lagi, aku tak ingin melihat air mata lagi, dan kau juga tahu persis aku tak bisa tahan melihat air mata. Terlebih disebabkan olehku.
Lalu, jika kau bertanya bagaimana akhir ini semua?
Aku akan memberikanmu senyum termanis yang dulu sering membuatmu tak bisa tidur dan kembali berkata, “Semua terserah padamu”.

Hei, surat ini sangat serius. Entah bagaimana kau melihatnya.
Aku mungkin selalu tertawa, selalu berteriak jika tak suka, selalu lari jika ada masalah, dan kau bilang aku tak pernah berani menghadapi ini semua? Jadi, anggap saja surat ini sebagai aku yang berdiri di hadapanmu dan berbicara dengan khidmatnya.
Jika kau tak suka dengan aku yang sekarang, kau bisa bayangkan aku yang dulu. Yang selalu membuatmu bahagia pastinya.
Kau tahu kita tak pernah bisa bicara saat ini. Dan kau jelas tahu apa yang terjadi jika kita bertemu muka. Sepakat dan mufakat hanya impian semata.
Kita tak bisa mengulang mimpi kita dulu saat tangan kita masih bergenggam tanpa celah.

Hei, kau masih disitu? Atau sudah kau tutup surat ini sejak kalimat pertama di atas?
Kuharap kau masih duduk manis disitu. Aku tahu kau kurang suka membaca, apalagi hal yang menurutmu kurang penting. Jika kau masih membaca kalimat ini, berarti kau sedikit menganggapnya lebih penting. Atau berpura-pura sajalah semua ini penting, itu akan membuatku sedikit bahagia.
Aku masih tidak berubah bukan? Obsesiku untuk menjadi pencari berita masih tetuang dalam surat ini.
Entah apa kau sudah menjawab semua pertanyaan itu dalam hati, atau kau hanya mengangguk dan menggeleng tak berarti.
Bagiku semua itu sekarang tidak penting, kau hanya perlu tau bahwa aku hanya ingin bicara, dan tentu saja melalui surat ini aku bisa mengungkapkan semuanya.

Sudah ya...
Dan jika boleh aku tanyakan sekali lagi padamu inti dari surat ini.
Apa kau betah?
Jika kau kembalikan pertanyaan itu lagi padaku, aku akan mengangguk sempurna.
Bahkan jika itu berarti selamanya.
Biarkan saja hati ini kosong, walau ada orang yang hendak masuk dengan paksa.
Dan dengan alasan yang tak pernah aku tahu, sampai sekarang tak pernah mau kau berikan kuncinya.

Komentar

  1. Keren nih, jadi berasa diajak ngobrol sekalipun lewat perantara surat.

    Buat sang penulisnya, satu kata buat bang andi: Lanjutkan menulisnya 👍

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan (lagi...)

Negeri yang Gemar Berisik