Misteri Tatto Sang Muazin

Dihadapanku ada pria penuh tatto. Dia sibuk dengan pekerjaan barunya; pencuci motor. Sesekali ketika dia menggosok jeruji velg tangannya terjepit. Dan tebak apa yang keluar dari mulutnya? Sebuah kata, iya hanya sebuah kata yang daritadi berusaha saya dengar dengan seksama. Sebuah kata istighfar. "Astaghfirullah" begitulah kira-kira.

Kupandangi raut wajahnya lekat-lekat, ternyata orang ini tak asing di mataku. Saban hari aku selalu bertemu dia di masjid terdekat. Dia yang kemarin mempersilahkan aku berwudhu lebih dulu ketika antrian anak-anak mulai memenuhi tempat bersuci itu. Dia juga yang mengumandangkan iqamah pada senja itu. Dan aku rasa suaranya juga sama dengan adzan yang biasa berkumandang, yang membuat aku kadang tak bisa menolak untuk melangkahkan kakiku menuju ke arah dimana suara itu berasal. Suaranya melengking tinggi, jernih, dan memabukkan. Seperti mendengar alunan lagu "She's gone" milik Steel Heart.

Aku duga dia bekas rocker. Juga bekas pecandu drugs. Dan pastinya perokok kelas kakap, sehari dua bungkus. Itu semua terlihat dari fisiknya yang kurus kering dengan bibir menghitam dan selalu mengunyah permen karet. Dan aku rasa dia juga seorang panglima di geng nya dulu. Itu terlihat dari tingkah beberapa orang disini yang selalu santun dan terkesan takut dengannya. Padahal bibirnya selalu tersenyum, tutur katanya lembut seakan berbicara sambil membelai mesra.

Tuhan Maha Sutradara, dan dibalik badan kurus penuh tatto itu, aku yakin ada kisah yang luar biasa di dalamnya. Beberapa orang akan punya versi yang berbeda, tapi apa peduli ku, aku hanya mengaguminya. Kagum dengan pilihannya untuk ber"hijrah".

Motorku sudah selesai di cuci. Ketika aku membayarnya, dia mengucap syukur. Dan tak lupa mengucapkan terima kasih dengan senyum manisnya. Senyum manis pertama di awal tahun ini yang aku terima.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan (lagi...)

Negeri yang Gemar Berisik