Aku merasa tak muda lagi. Beban hidup yang terasa membatu, tak kuasa kupikul dengan bahu yang mulai renta. Bukan karena tak mampu, tapi lebih mendekati bosan. Jutaan masalah yang selalu saja berulang setiap hari dengan tambahan kerikil-kerikil tajam sudah pasti menyambangi hidup pecundang ini. Air mata masih menjadi pelarian yang tepat walau selalu aku sembunyikan dengan tawa terpaksa di depan teman. Sungguh sandiwara yang melelahkan! Apalagi jika luka itu terlalu dalam menyayat kalbu, serasa ingin lari ke suatu tempat yang tak ada seorang pun tahu. Tapi apalah dayaku, aku hanya melihat kosong semua masa depan. Semua yang terbayang adalah jeritan masa lalu kelam, kebodohan karena menyerahkan diri pada budak setan.