Entah

Aku merasa tak muda lagi. Beban hidup yang terasa membatu, tak kuasa kupikul dengan bahu yang mulai renta. Bukan karena tak mampu, tapi lebih mendekati bosan. Jutaan masalah yang selalu saja berulang setiap hari dengan tambahan kerikil-kerikil tajam sudah pasti menyambangi hidup pecundang ini. Air mata masih menjadi pelarian yang tepat walau selalu aku sembunyikan dengan tawa terpaksa di depan teman. Sungguh sandiwara yang melelahkan! Apalagi jika luka itu terlalu dalam menyayat kalbu, serasa ingin lari ke suatu tempat yang tak ada seorang pun tahu. Tapi apalah dayaku, aku hanya melihat kosong semua masa depan. Semua yang terbayang adalah jeritan masa lalu kelam, kebodohan karena menyerahkan diri pada budak setan.


Aku hanya ingin bebas sejenak. Minum air bersoda dari botol pepsi, menonton drama korea 36 episode, atau sekedar menari moonwalk ala Michael Jackson. Mau mencoba? Sepertinya sudah terlambat, aku menghilangkan sebuah fase penting dalam hidupku. Masa dimana setiap manusia menjalani ritual remajanya dengan hal yang tak biasa, masa dimana mereka teriak sekeras-kerasnya di sebuah jembatan dan orang-orang memakluminya. Naif memang jika menginginkan hal gila seperti itu, tapi bukankah itu proses? Ibarat sebuah mangga, akan lebih nikmat jika matang di pohon walau terkena hujan dan panas matahari itu hal yang biasa, tapi bandingkan dengan yang masih mentah sengaja dipetik kemudian diperam, rasanya terlalu biasa dibandingkan dengan mangga lainnya.

Entahlah, mungkin saja aku salah akan itu semua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan (lagi...)

Negeri yang Gemar Berisik