Jika Besok Aku Mati

Jika besok aku mati,

barangkali hujan akan datang
lebih awal dari biasanya.

Ia mengetuk jendela rumahku
seperti seseorang yang terlambat mengucapkan maaf.

Jangan menangis terlalu lama.

Air mata selalu kalah deras
dibanding hujan yang tak pernah lelah mencari bumi.

Jika besok aku mati,

tolong jangan buru-buru
melupakan suaraku.

Biarkan ia tinggal sebentar
di sela-sela lagu yang pernah kita dengarkan ketika dunia belum pandai memisahkan.

Aku pernah mencintai
dengan cara yang berisik.

Terlalu banyak doa.

Terlalu banyak harap.

Terlalu sedikit berani.

Mungkin itu sebabnya
semesta lebih dulu
mengajariku kehilangan.

Jika nanti
kau melihat hujan
menggantung di ujung senja,
jangan mengira aku sedang pulang.

Aku hanya ingin
menitipkan satu kenangan,
bahwa pernah ada seseorang
yang menghafal caramu tertawa,
lebih tekun daripada ia menghafal jalan pulang.

Dan bila namaku
sesekali singgah
di kepalamu,
jangan jadikan aku sebagai luka.

Jadikan saja
seperti hujan.

Datang sebentar,
membasahi kenangan,
lalu pergi
agar bunga-bunga tetap punya alasan untuk mekar lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan (lagi...)

Negeri yang Gemar Berisik