Empat Belas Tahun yang Tak Pandai Berhitung

Usiaku tiga puluh enam.
Kalau cinta ini proyek,
barangkali sudah gagal
di meja verifikasi.

Kau dua puluh dua.
Masih hafal lirik lagu-lagu baru.

Sedang aku lebih hafal
nomor BPJS daripada chorus.

Katanya,
aku terlalu tua.

Lucu.

Padahal yang paling tua
bukan usiaku.
Melainkan pikiran orang-orang
yang sibuk menjadi notaris
atas perasaan orang lain.

Temanku bertanya,

"Kau serius?"

Aku bilang,

"Tidak."

Lalu setiap malam
aku memeriksa ponsel lebih sering
daripada memeriksa saldo.

Beginilah lelaki.
Kalau jatuh cinta,
umur pensiun
bisa mendadak menjadi masa orientasi.

Aku pernah mencoba
bersikap dewasa di depanmu.

Gagal.

Kau tertawa sedikit saja,
harga diriku langsung diskon besar-besaran.

Aku tahu.
Kalau nanti kita berjalan berdua,
orang-orang mungkin mengira
aku dosenmu.
Atau ommu.
Atau sales asuransi yang terlalu ramah.

Tak apa.

Biar saja.

Aku lebih takut
kau memanggilku
"Pak."
Daripada kau tak memanggilku sama sekali.

Kalau akhirnya
kau memilihku,
aku berjanji akan belajar mengikuti tren.

Meski diam-diam
aku masih bingung cara memakai Gen Z
sebagai kata sifat.

Kalau akhirnya
kau tak memilihku,

tak masalah.

Setidaknya,
di usia tiga puluh enam,
aku pernah membuktikan
bahwa kupu-kupu
tidak mengenal tanggal lahir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan (lagi...)

Negeri yang Gemar Berisik