Tuhan Tersenyum Kecut

Kita pernah tinggal serumah.

Berbagi tagihan listrik,
beras lima kilo,
dan mimpi yang ukurannya
lebih besar daripada ruang tamu.

Kau hafal
cara aku tidur.

Aku hafal
cara kau marah
ketika odol kupencet dari tengah.

Kita pernah bertengkar
karena garam,
lalu berdamai
karena hujan.

Begitulah cinta.

Sering kali
lebih takut kehilangan
daripada kehilangan itu sendiri.

Lucunya,
kita tak pernah kalah
oleh orang ketiga.

Yang mengalahkan kita
adalah kolom
"Agama".

Betapa aneh.

Kita bisa tidur di bantal yang sama,
tetapi tak bisa
berdiri
di pelaminan yang sama.

Kita bisa saling
menghafal detak jantung,
tetapi gagal
menghafal doa
yang berbeda arah.

Aku sering membayangkan,
barangkali Tuhan
sedang tersenyum kecut
melihat dua manusia
yang sama-sama percaya kepada-Nya,

tetapi gagal
percaya
pada cinta
ciptaan-Nya sendiri.

Besok
aku akan pergi.

Mungkin kepada perempuan
yang seiman.

Kau pun
akan menemukan lelaki
yang bisa diterima
di meja makan keluargamu.

Lalu kita akan hidup
seperti orang-orang dewasa;

tersenyum di undangan,
tertawa di foto,
dan diam-diam
menguburkan
versi paling jujur
dari diri kita.

Kalau suatu hari
anakmu bertanya,

"Bu, pernah jatuh cinta?"

Jangan sebut namaku.

Katakan saja,

"Ibumu pernah hampir bahagia.
Sayangnya,
surga yang kami tuju berbeda pintu."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan (lagi...)

Negeri yang Gemar Berisik