Aku Tak Mau Lagi Menjadi Puisi
Jangan jatuh cinta
kepada penulis.
Mereka memelihara kenangan
lebih tekun daripada memelihara manusia.
Baginya,
setiap perpisahan bukan akhir.
Melainkan lumbung diksi
yang dipanen
setiap hujan sore
mengembunkan kaca jendela.
Aku pernah
menjadi paragraf
di buku seseorang.
Ia menandai tawaku
dengan tinta yang tak pernah kering.
Menghafal
lekuk suaraku seperti hujan menghafal bau tanah setiap kali pulang.
Lalu suatu sore,
hujan turun
lebih lama daripada pelukan.
Kita memilih diam.
Dan diam,
ternyata lebih fasih mengucapkan selamat tinggal.
Sejak hari itu,
aku takut
kepada hujan sore.
Sebab setiap rinainya
selalu menemukan halaman yang pernah memuat namaku.
Aku tak lagi percaya kepada penulis.
Mereka pandai
menyulap perempuan menjadi hujan,
mengubah perpisahan menjadi senja,
lalu menjualnya sebagai puisi.
Pembaca menangis.
Sedang tokoh di dalamnya
tak pernah diberi kesempatan
untuk sembuh.
Aku tak ingin lagi
menjadi puisi.
Aku ingin menjadi
hal yang lupa ditulis.
Sebab hanya yang lupa
tak akan dipanggil kembali oleh hujan sore
yang gemar membuka arsip kenangan.
Komentar
Posting Komentar