Sebelum Namaku Menjadi Doa
Barangkali,
tak ada yang benar-benar siap
menjadi kenangan.
Termasuk aku.
Maka sebelum namaku
lebih sering disebut dalam doa
daripada percakapan,
izinkan aku
menitipkan beberapa maaf.
Kepada Ayah,
maaf.
Aku belum sempat
menjadi lelaki
yang membuat pundakmu lebih ringan.
Aku masih sering
tersesat di dalam kepalaku sendiri.
Kepada Ibu,
maaf.
Aku terlalu lihai
mengucapkan,
"Aku baik-baik saja."
Padahal Ibu
selalu tahu bahwa mata lebih jujur daripada mulut.
Kepada teman-teman,
terima kasih
karena pernah percaya
bahwa tawaku adalah pertanda bahagia.
Maaf,
aku terlalu sering mengubur gelisah sendirian.
Bukan karena
tak mempercayai kalian.
Aku hanya takut,
lukaku
ikut merepotkan hidup orang lain.
Kepada orang
yang pernah mencintaiku,
maaf.
Aku terlalu sibuk menjadi tempat berteduh,
hingga lupa bahwa rumah pun sesekali butuh dipeluk.
Dan kepada mereka yang memilih pergi,
terima kasih.
Kalian mengajarkan
bahwa kehilangan
tak selalu datang untuk menghukum.
Kadang,
ia hanya sedang mengajari seseorang
cara bertahan dengan dada yang tak lagi utuh.
Jika suatu hari
namaku benar-benar menjadi doa,
jangan menangis
terlalu lama.
Kenang saja aku
seperti hujan.
Datangnya
tak pernah bisa ditahan.
Perginya
tak pernah bisa diminta.
Namun setelahnya,
selalu ada tanah
yang belajar mengikhlaskan basah.
Dan jika Tuhan
berkenan mempertemukan kita lagi,
semoga saat itu
aku sudah menjadi manusia
yang tak lagi
meninggalkan maaf
di setiap perpisahan.
Komentar
Posting Komentar