Interlude yang Terlupakan

Di rak paling sunyi rumah ini
Namamu masih tinggal
Seperti debu yang enggan dipindahkan angin
Padahal musim telah berkali-kali berganti wajah

Aku pernah percaya
Bahwa cinta cukup menjadi atap bagi dua jiwa yang kehujanan
Namun rupanya
Ada yang lebih kaupercayai
Daripada sepasang tangan yang selalu pulang kepadamu

Kini aku sering duduk
Di hadapan secangkir kopi yang mendingin sendiri
Memandangi senja yang tak pernah bertanya; Mengapa separuh langit memilih pergi?

Barangkali aku hanyalah lelaki
Dengan kantong yang tak sempat menandingi impianmu

Sedang kau,
Memilih jalan yang berkilau
Meski harus menanggalkan jejak-jejak kita

Tetapi aneh
Rindu tidak mengenal hitung-hitungan
Ia tetap datang
Meski telah tahu sebab kepergianmu
Ia tetap mengetuk
Meski telah mengerti
Bahwa yang kalah bukan cinta melainkan isi dompetnya

Malam-malam tertentu
Aku masih menemukanmu
Di antara bunyi jam yang berjalan lambat
Di lipatan bantal yang kehilangan aroma rambutmu
Di jendela yang memantulkan bayangan seorang lelaki yang sedang belajar menerima; Bahwa tidak semua yang diperjuangkan akan memilih tinggal

Dan bila suatu hari
Kau membaca namaku lagi
Pada ingatan yang mulai berdebu
Ketahuilah,
Aku tidak membencimu
Aku hanya sesekali merindukan
Perempuan yang dahulu menggenggam tanganku erat
Sebelum dunia mengajarkan
Bahwa harga terkadang lebih didengar daripada hati.

Aku kehilanganmu bukan ketika kau pergi
Aku kehilanganmu jauh sebelumnya
saat matamu mulai mengukur masa depan dengan angka-angka,
dan berhenti melihatku sebagai rumah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan (lagi...)

Negeri yang Gemar Berisik