Aku Merindumu secara Membabi Buta

Tak ada sunyi yang abadi tanpa dipeluk puisi.
Rindu ku subur disiram diksi demi diksi yang menari dalam ruang imaji.
Katakanlah wahai Puan penunggang malamku yang lirih: bahagiakah kau menyiksaku lewat senyum yang kau batasi tak kurang dari 7 senti?
Aku menuntut kau bertanggung jawab atas semua kebodohan ini; bodoh karena terjaga, bodoh karena mau-maunya dijajah rasa gila karena sebelum tidur kau berkata - aku rindu, itu saja.
Aku geram karena kau tak paham sebab tangan ini keram dan ingin menggenggam.



Kadang aku hanya ingin menelponmu; cuma ingin sekedar bertanya seberapa lembut angin di kotamu menghapus kalut?
Tahukah kamu seberapa besar rindu yang kutanggung? Ialah sebesar Arsenal merindukan si kuping besar secara bebal, menggebu tapi tak maksimal.

Mengaku saja, pasti kau rindu walau sedang mati lampu.
Sebab dalam dengkurmu, aku adalah angin yang berpura-pura membelai tubuhmu.

Hei, jika kau bangun, ceritakan padaku apa itu rindu, sebab cinta tak diam begitu.
Senyummu tak banyak bicara, aku hampir ingat seluruh kata-katanya. Salah satunya adalah: Jangan jadi jahanam hanya untuk menikmati, tanpa berusaha datang pada Bapak untuk meminta anaknya yang manis ini.
Tapi aku selalu berusaha untuk menjadi penerjemah yang biadab dengan membaca: Cium saja dulu, nikahnya belakangan.
Akhirnya aku tahu bahwa Rindu juga bisa menjadi bangsat.

Kamu yang lagi tidur, selain menyiksaku dengan rindu, apalagi yang kau bisa?
Kuminta kau jangan terjaga jika belum tiba saatnya.
Barangkali di dalam mimpimu, kita bisa saling mengucapkan cinta, saling berciuman dan berpura-pura menjadi satu keluarga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan (lagi...)

Negeri yang Gemar Berisik