Maap Untuk Malam



Hai malam, sudah lebih 24 tahun kamu menemaniku. Entah mengapa beberapa minggu terakhir kau datang dengan hal yang selalu aku benci. Rindu yang tak berujung, kecawa terhadap masa lalu, mimpi buruk masa depan, dan segala bentuk penderitaan lainnya kau kirim padaku. Untung saja aku punya Tuhan tempat mengadu, kepada siapa lagi aku utarakan kebencianku padamu jika bukan padaNya yang menciptakanmu. Aku bersyukur masih bisa melihat dalam gelapmu, jika tidak selamanya aku dihantui ketidakparcayaan diri karena masalah ini tak kunjung henti. Maap dan terima kasih atas semua ini.


Mungkin juga aku yang salah. Beberapa tahun yang lalu, kita sangat dekat. Kau setia menemaniku menulis puluhan puisi dengan lilin sebagai cahaya. Sejak keterpurukan hidup yang aku alami saat itu, kau seakan menjauh. Tak ada lagi kamu yang dulu membisikan dingin di sekujur tubuh, tak ada lagi kamu yang bercerita tentang kebencianmu pada pagi yang dulu juga diam-diam kukagumi. Itu sudah sangat lama sekali, ketika aku berfikir untuk mengulang romantisme kita, aku dilema.

Aku rasa kita perlu bicara, kita adalah kau dan aku. Jangan libatkan dia yang telah merenggut kebahagiaan kita. Dia yang dulu sering kubanggakan di depanmu, kini menjadi monster dalam mimpi. Aku malu menceritakan keburukannya pada siapapun termasuk kamu. Ya, kecuali dengan Dia, Yang Maha Mendengar. Selama aku tak pernah menyapamu lagi, aku sibuk dengan-Nya. Aku sibuk memohon ampun pada-Nya, memanjatkan do’a pada-Nya dan juga kembali ke jalan-Nya. Aku rasa semua orang benar, hanya kepada-Nya lah tempat terbaik untuk bercerita dan berkeluh kesah.

Maapkan aku malam, aku harus pergi. Aku harus memulai pertemuanku dengan-Nya di malam ini. Aku sedang terpuruk, dan sesungguhnya itulah waktu terbaik bertemu pada-Nya. Karena di dalam lirih, do’aku bertenaga berkali-kali lipat dari biasanya. Dia selalu membukakan pintu rahmat-Nya kepadaku kapanpun aku mau. Berbeda denganmu yang berjaya ketika gelap. Ketika pagi datang, kau pergi tanpa permisi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan (lagi...)

Negeri yang Gemar Berisik