7 Days for Every Day
Assalamualaikum Wr. Wb.
Selamat dirundung rindu.
Ini surat pertama atas nama dirimu. Dan aku selalu yakin
akan ada surat-surat berikutnya mengikuti dari belakang siap menabrak
lamunanmu. Aku dan kamu akan sama-sama merangkai kisah ini untuk kemudian siap aku
tuliskan dan berakhir di tanganmu untuk kau baca. Begitulah adanya, kisah cinta
selalu saja menarik untuk terus didengungkan walau sudah tak tersisa pada
masing-masing pelakonnya. Aku selalu berharap di ujung kisah ini kita akan
menemukan happy ending walau dalam
perjalanannya kita akan menemukan tornado yang siap membuat kita berputar
dengan tawa dan derai air mata. Setidaknya, begitulah lantunan do’a yang selalu
aku panjatkan kepadaNya ketika menangis di atas sajadah merah. Kepercayaanku
kepadaNya Yang Maha Bijaksana tak pernah hilang barang sedikitpun walau kita
mengalami masa sulit seperti drama di film Korea.
Apa kabarmu kasih? Masih kau pegang janji itu untuk selalu
menunggu? Atau kah sudah kau buang jauh mimpi yang sama-sama kita amini saat
berada di bangku tua dengan daun pohon bertebaran kemana-mana? Semuanya bagiku
sangat tidak masalah, sebab aku pernah bilang; aku tak peduli dengan apapun
perasaanmu, karena aku sangat menikmati rasa yang tumbuh di hati ini. Tak
peduli seperti apa rintangan yang akan kuhadapi nanti, kau akan tetap menjadi
makhluk terakhir yang ingin aku miliki. Kau akan tetap aku perjuangkan sampai
nanti aku punya alasan jelas untuk berhenti merajut mimpi. Kau tahu aku adalah
pejuang, dan kau juga pasti tahu kalau pejuang tak pernah menyerah dalam
menggapai kemerdekaan hati. Ini bukan semata-mata soal memiliki, tapi
permintaan kepadaNya agar nama kita dinyanyikan malaikat saat prosesi sakral
ikatan suci. Kau tahu apa yang paling aku benci? Aku benci saat terlintas
sedikit hal yang membuat semua itu terasa tidak masuk akal. Karena aku yakin
“Kun fayakun”! Jika Dia sudah menandatangani proposal kita, tak ada yang bisa
dilakukan oleh siapapun, bahkan untuk manusia berlabel raja.
Kadang aku tertawa geli ketika mengingat semuanya. Saat
dimana Tuhan mulai sama-sama membalikan hati kita lewat 7 hari luar biasa.
Memang untuk memautkan dua hati menjadi satu tak butuh waktu terlalu lama. Kita
bahkan hanya butuh sepersekian detik pandangan mata, kemudian cinta akan
melaksanakan tugasnya untuk menyeret kita sampai akhirnya jatuh tak berdaya.
Yang kita sama-sama tahu, setelah hari-hari indah itu ada perasaan yang lebih
gila datang dan muncul menggebu-gebu, belakangan kita kenal namanya adalah
rindu. Kita kehilangan banyak waktu untuk berfikir bagaimana bisa bertemu atau
paling tidak saling menyapa lewat lagu. Rindu ini seperti tak sabar mencapai
klimaksnya walau kita baru saja bertemu 24 jam yang lalu.
Hei bidadari dalam layar sentuhku, tak usah risaukan aku
disini. Peluk saja aku dengan do’a dalam sujud panjangmu. Lanjutkan mimpimu
yang masih belum terwujud. Selagi kau sibuk disana, aku disini mempersiapkan
hari depan kita dengan sebaik mungkin. Walau kita tahu, rencana kita kadang tak
sebaik Dia Yang Maha Merencana. Tapi itulah sebaik-baiknya cinta, saling dekap
dalam do’a, saling menjaga dalam setia, dan saling memiliki walau tak bisa
berjumpa. Seperti yang selalu aku bilang; “Kita lakukan bagian kita, Dia tak
akan lupa bagianNya”.
Sudah dulu ya, nanti aku sambung lagi.
Dari aku, yang selalu mengganggumu.
Nb: Jangan terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Sesekali
manjakan tubuhmu dengan tidur lelap sepanjang hari. Dan jangan suka menonton
film Korea, hidup tak selamanya seperti drama.
Komentar
Posting Komentar