Menjelang Purnama Ramadhan

Bulan sudah hampir penuh purnama, itu artinya Ramadhan sudah melampaui hari kesepuluhnya. Aku sedang sibuk dengan cintaku padaNya yang semakin ingin kuperkuat, sembari mulai mengikis habis semua cinta semu kepada makhlukNya yang selalu saja berujung pada kekecewaan. Mungkin ini caraNya cemburu padaku jika terlalu mencintai selain diriNya. Hubungan kami sedang mesra-mesranya. Memang ketika manusia berada di titik paling rendah hidupnya, sesungguhnya itulah saat paling dekat dengan Tuhan, karena do’a yang dirapal akan sebegitu lirih dan berkali lipat lebih tulus dari biasanya. Selalu saja ada yang berbeda dengan Ramadhan disetiap tahunnya, dan kali ini aku melewatinya dengan hati yang hancur sembari memungutnya kembali seperti kepingan puzzle dan membuatnya utuh kembali melalui istiqomah. God works in mysterious way.


Aku mengasingkan diri dari semuanya; dari dunia yang selama ini aku geluti, dari beranda dan lini kala sosial media, dan dari orang-orang yang sudah tak suka lagi padaku. Biarlah semua aku tinggalkan sementara demi bulan madu yang indah kepadaNya. Membaca syair-syair yang dibuatNya di Al-Quran membuatku tenggelam dalam kenikmatan yang tak terperikan indahnya. Mungkin selama ini aku lupa dan terlena, bahwa sesungguhnya tempat yang paling indah dan menenangkan itu adalah di atas hamparan sajadah merah. Dan aku selalu bahagia, ketika aku pernah mengecewakanNya dan meminta kembali, Dia selalu saja memberikan pengampunan padaku yang bahkan tak pernah tahu diri.


Dear Allah, please forgive my sins.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan (lagi...)

Negeri yang Gemar Berisik