Ada rinai yang jatuh membawa derana dari langit yang kelelahan. Ia mengetuk genteng, lalu menyelinap ke dada yang belum selesai belajar kehilangan. Desember datang dengan petir yang pandai membuka luka. Mengubur harap hingga akar-akarnya, menyisakan tanah yang enggan ditumbuhi bahagia. Hujan, mengapa kau selalu memilih waktu ketika aku hampir berhasil melupakan? Kau siram jalan-jalan yang pernah kami lewati, kau basahi bangku yang pernah kami duduki, lalu kau pulangkan semua yang telah susah payah kukuburkan sendiri. Aku pria merdeka yang kehilangan rumah karena terjajah derita. Sedang menata hati yang porak poranda sejak dia pergi. Namun kau datang membawa bau tanah, membawa suara, membawa segala yang dulu kupanggil "kita." Lalu mimpi-mimpi itu kau asah menjadi sembilu. Menusuk perlahan, tanpa darah, tetapi lebih perih daripada luka yang terlihat. Hujan, hari ini aku tidak membencimu. Aku hanya membenci kenyataan bahwa setiap kali kau turun, nam...
Komentar
Posting Komentar