Pegasus
Pegasus
adalah seekor kuda jantan bersayap yang merupakan putra Poseidon dan Medusa
dalam mitologi Yunani. Pegasus banyak dijumpai dalam karya-karya seni baik
Yunani, Romawi maupun Mesopotamia. Pegasus merupakan makhluk yang wujudnya
menggambarkan adanya hubungan antara dewa-dewa. Kata “Pegasus” kini digunakan
untuk merujuk kepada segala macam kuda bersayap secara umum (Wikipedia)
Yoga Ilhamsyah. Begitu kau memperkenalkan
dirimu. Kita bertemu di Pusat Layanan Anak Terpadu (PLAT). Itu kunjungan kedua
organisasi yang Aku pimpin, di pertemuan pertama aku tidak ikut. Itu juga
pertama kalinya kita bertemu, seingatku itu juga terakhir kalinya. Setelah itu,
kau bagai hantu bergentayangan ke pelosok negeri hanya ingin memuaskan nafsu traveling mu yang sering kau sebut “My Street, My Adventure”. Aku hanya melihat keseruan petualanganmu
lewat media sosial. Disitu juga tempat kau menumpahkan segala emosimu. Marah,
bahagia, senang, terpukul, merasa diabaikan, dan banyak lagi cerita yang kau
tulis dengan bahasamu sendiri; Bahasa jujur dan ingin di dengar. Cerita hidupmu
begitu menarik. Andai saja dijadikan sebuah novel, aku yakin akan laku terjual.
Jika pun tidak laku, biarlah aku saja yang membeli cetakan pertama saat kau
promosi, dan jangan lupa minta bubuhi tanda tanganmu di halaman pertama. Kelak
buku itu akan kubacakan sebagai dongeng untuk mengantar tidur anakku, sambil
berharap dia akan mewarisi beberapa hal postif yang kau punya; Berani Jujur.
Jika kau pikir tulisan ini adalah
permintaan maaf, wujud penyesalan, atau sebagai perayu kau salah besar. Aku tak
ingin memposisikan kamu sebagai anak kecil yang gemar menangis kemudian
menuntut untuk dibelikan balon baru berhenti menangis. Alasan dari semua
kata-kata yang tertuang di sini sangat sederhana; Aku Peduli. Mungkin di
kepalamu timbul tanda tanya besar, Buat apa aku peduli padamu? Sejujurnya itu
pertanyaan yang belum aku temukan jawabannya. Kau boleh tanyakan itu kepada
seseorang yang sedang menuntut ilmu di Bandung sana. Mungkin dia lebih punya
penjelasan yang masuk di akal. Ketika melihat dan memperhatikan tingkahmu
pertama kali, aku seperti melihat diriku di masa lalu. Jika kau ingin mengenal
lebih jauh siapa aku, maka bercerminlah. Mungkin bedanya aku tidak bertato dan
punya lubang tindik sebesar cincin di telinga. Aku yang dulu adalah pemberontak
sepertimu. Mencoba hal-hal yang tidak lazim bagi sebagian anak baik jaman
sekarang. Aku yang dulu adalah orang yang selalu ingin di akui keberadaanya.
Mencoba melakukan hal apa saja asal semua mata tertuju padaku. Soal gaya,
mungkin aku tidak kalah. Aku juga punya kaos hitam bergambar tanduk setan yang
koyak seperti habis bertempur dengan para Samurai. Aku juga punya jeans belel
dengan robek kenangan dan penuh tampalan sana-sini. Jeans itu juga dihiasi
puluhan kancing warna-warni dengan ukuran yang berbeda. Kau tahu dimana aku
menemukan kancing-kancing itu? Hasil menjarah lemari Ayah dan Ibuku. Beberapa
minggu kemudian mereka heran karena jas dan baju batik mereka selalu kekurangan
sebuah kancing.
Yoga, aku rasa kau harus tau rutinitasku
sepanjang hari saban minggu. Aku seorang Guru. Guru olahraga tepatnya. Aku
mengajar di sebuah Sekolah kecil dalam Hutan Kalimantan. Aku menghabiskan waktu
produktifku kurang lebih 5-6 jam setiap harinya di jalanan mengendarai sepeda
motor. Aku juga diperbantukan sebagai Bendahara di Unit Kerjaku. Bisa dibilang
aku juga sebagai staff administrasi disana, karena semua urusan surat menyurat
dan dokumen-dokumen berasal dari layar datar media aku membuat tulisan ini. Aku
juga dipercayakan sebagai Sekretaris di sebuah perkumpulan yang isinya adalah
Guru-guru Olahraga. Dan beberapa minggu lalu aku juga ditunjuk untuk menjadi
Sekretaris dalam kontingen Porseni Guru yang akan berangkat ke Kabupaten
Mempawah. Mulai bulan Desember sampai Mei tahun depan, aku sudah di kontrak
untuk melatih dua orang terpilih dalam cabang olahraga Renang. Dan terakhir,
aku adalah ketua Pejuang Lintas Batas Khatulistiwa. Jika kau pikir aku bangga
dengan semua kesibukan itu, kau salah besar. Sejujurnya aku hanya ingin menjalani
hidupku seperti biasa. Bisa jalan-jalan kemana saja sepertimu bagai burung
tanpa sangkar. Punya waktu luang yang banyak untuk menulis blog ini dan
melanjutkan novelku yang stuck di BAB
Satu. Aku ingin punya banyak waktu untuk melamun dan bermimpi, salah satu
keahlianku yang selalu aku syukuri. Itu semua hanya bahan pertimbangan untukmu,
agar kau lebih bersyukur dengan hidup ini. Jika boleh kita bertukar tempat, aku
sangat mau. Dan jika itu terjadi, aku rasa setiap hari Dinding Facebookmu penuh
dengan umpatan ketidakadilan pada hidup.
Ada banyak hal luar biasa dalam hidupku,
salah satunya bertemu denganmu. Kau orang yang unik. Selain alasan yang sudah
aku kemukakan di atas, karakter dan kepribadianmu adalah pembeda di antara
orang-orang di sekelilingmu. Aku menaruh optimisme besar kau bisa mengubah
paradigma PUNK yang lebih terkenal dengan negatifnya menjadi lebih baik. Jika
saja ada satu diantara sepuluh orang yang bergelut di dunia sepertimu, tentu
akan banyak hal-hal postitif yang ditularkan. Orang-orang mungkin akan mengubah
sudut pandang mereka kepada kalian. Tapi kau adalah kau. Menenemukan orang
sepertimu bagai menyelam mutiara dalam palung mariana. Kau adalah satu di
antara banyak dari teman-temanmu yang bisa menjadi kontrol sosial pada Republik
ini.
Maaf aku harus mengakhiri tulisan ini.
Kapan-kapan aku sambung lagi. Saranku, “Jika kau berada di dalam kumpulan keledai,
jadilah Pegasus”
Nb: Jika kau gundah, mungkin sesekali kau
bisa mengadu pada Tuhan, Dia tak pernah meninggalkan siapapun. Jika ingat,
sholatlah. Jangan pedulikan omongan mereka yang mencibirmu.

Komentar
Posting Komentar