Bila Nanti Kau Milikku

Pukul 2 Pagi. Saat mata sayu ingin terpejam lagi, saat asa meluluhlantahkan mimpi, saat rindu berada pada puncak yang tertingi.


Hei kamu yang saat ini sedang tidur dan baru saja menyelesaikan tulisan serupa. Apakah kamu sudah melakukan ritual yang telah kita sepakati? Mengadu dan merayu Pemilik semesta demi kita yang saling memiliki. Apa masih kau lantunkan do’a yang sama pada waktu itu?

Kamu yang memenuhi jiwa menyesakkan dada. Jika saat itu tiba, aku mau kau jadi sholehah. Bukan hanya sebagai pendamping, tapi juga teman bercanda. Jika aku sedang dirundung pilu, hibur aku dengan puisi lucu nan merayu itu. Sesungguhnya kebahagiaanmu berarti kebahagiaanku juga, jadi berjanjilah untuk terus bahagia sesulit apapun kita nantinya.

Ada kalanya nanti kita akan berselisih paham tentang rindu. Aku teguh bahwasanya rindu tak perlu lagi ada ketika bersama, sedang kau bersikukuh rindu akan tetap ada walau jarak kita hanya sepersekian sentimeter jauhnya. Bagiku  walaupun nanti kita tetap terpisah jauh, kau tetap tegak berdiri di sanubari. Sedangkan kau selalu saja menginginkan rindu tumbuh, agar hasrat itu tetap bertalu-talu. Kurasa kita sepakat soal cinta, sesederhana kalimat “aku cinta padamu selamanya”.

Selamat Menderita! Aku akan mengucapkannya nanti. Aku bukan orang yang sempurna. Terutama dalam menenangkan kau yang sedang marah. Aku akan memilih diam ketimbang merayu kemudian diabaikan. Aku akan memilih opsi lainnya, seperti membelikanmu martabak, es krim, nasi goreng yang pedes, pentol bakar, pisang goreng (pisang tanduk), mendoan, dan segala macam bahan rayuan yang pernah kau sebutkan kemarin. Aku bukan perayu yang mahir. Jadi berlatihlah menjadi kupu-kupu baja mulai dari sekarang. Lagipula, kau lebih baik gemuk ketimbang kurang gizi, begitukah? Hahaha...

Kita sesama pencinta kopi. Mungkin komposisi rasa kita yang berbeda. Aku akan memintamu meluangkan waktu satu hari saja untuk kita sama-sama menyamakan rasa kopi yang kita suka. Agar nanti ketika kita ditakdirkan untuk hidup sederhana, kita bisa berbagi secangkir kopi berdua. Dengan perpaduan rasa manis dan pahit yang sama, bahtera kita tetap aman sampai tutup usia.

Aku suka puisi, kau suka komedi. Perpaduan yang baik bukan? Jika nanti Tuhan menitipkan kita hamba lain yang harus kita jaga, mari kita didik dengan diksi dan tawa. Mereka akan tumbuh menjadi manusia super yang bisa mengubah kesedihan menjadi bahagia. Setidaknya di dalam rumah, semoga juga untuk Agama, Bangsa dan Negara. Aamiin...


Haruskah kita alunkan lagi musik tentang rindu, sampai saat itu tiba kau masih akan bersikukuh tetap ada rindu, dan aku akan teguh tak ada lagi rindu karena kau sudah dalam pelukanku. Semoga...

Komentar

  1. Tulisannya jenis sastra ya. Perlu dibaca berulang kali untuk mendapatkan makna dari tulisan ini.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan (lagi...)

Negeri yang Gemar Berisik