Sebelum Cahaya
Pernahkah kau merasa bersedih ketika rindu, namun untuk
sekedar bermuram saja kau tak bisa, entah kelainan atau memang keanehan, aku
sedang mengalaminya. Semalaman aku hanya terbaring di atas ubin menatap
langit-langit rumah yang belum di tutupi plafon. Bolak-balik melihat hp
pinjaman berwarna merah jambu untuk mencari playlist lagu kenangan; Banda Neira
masih menjadi penyiksa terbaik selama ini. Liriknya masih bisa membius dalam
kepedihan. Tapi lama-kelamaan aku mulai kebal, kucoba mencari lagu lain. Sampai
kutemukan suaramu dalam kumpulan recorder yang sengaja aku rekam ketika kita
berbicara lewat telpon. Lunas sudah penderitaan malam ini. Semuanya dibayar
dengan telak tanpa tedeng aling-aling. Begitukah?
Jauh sebelum belalang hijau menembus dua kecamatan subuh itu
untuk menjemputmu, aku sudah tau kau adalah elegi. Menginginkanmu adalah
ke-fana-an yang hakiki. Aku hanya berharap pada kun fayakun Nya yang selalu aku ucapkan saban pagi sampai menjelang
tidur. Bahkan ketika aku menginginkan jatah lembur untuk bercerita denganNya
lewat tengah malam. Seperti malam ini yang kuhabiskan memaksakan diri untuk
mengadu; aku sudah tidak kuat, rindu ini menghujam jantungku.
Kita sama-sama tahu bahwa hidup selalu saling
tikung-menikung dengan waktu yang kadang menimbulkan gerutu. Kumohon jangan
salahkan waktu, salahkan saja aku. Aku yang dengan lancang masuk tanpa ijin
menabur benih cinta dalam dada, menyiramnya dengan tawa pestisida, dan
memupuknya dengan rindu yang menggelora. Mari kita membujuk waktu agar dia tak
berlari sekencang bajingan, supaya kita bisa menikmatinya dengan berjalan kaki
sambil bergandengan tangan sampai nanti kita temukan sebuah bukit dengan dua
tanjakan; menikah atau berpisah.
Aku terlalu dan terlanjur sayang pada dirimu, hingga aku
lupa warna kerudungmu saban hari. Kadang ketika jatuh cinta orang bisa
melupakan segalanya, aku hanya takzim menatap senyum pembawa pesan masa depan;
seketika dunia ini hanya diisi dengan rendang jengkol, indah tak terperikan.
Jadilah milikku, pelukkan dalam setiap gigilku setiap subuh.
Komentar
Posting Komentar