Hujan di angkasa hujan di Indonesia. Dingin, sejuk, menggigil menembus tulang dan darah. Sementara di belahan langit lain, Aurora memecah warna. Indah, seperti kemarin saat kita berdua di bawah purnama. Tak ada purnama antara hujan dan khatulistiwa. Hanya ada rindu yang terselip merintih menahan perih disiksa cuaca. Kamu di sana, entah sedang apa dan dimana. Aku disini terhukum menulis puisi ini. Mungkin sudah sumpah, kalau aku harus lecet kemudian berdarah untuk rasa ini. Untuk seorang kamu yang tak pernah berhenti bernyanyi dalam melodi lirih pada Ilahi. Hujan ini, mewakilkan kisah yang sedang terjadi. Kemarin disergap hangat mentari, kini dingin menjadi-jadi. Kita sama-sama menantikan pelangi. Tapi tidak ada pelangi di malam hari. Hanya ada Aurora di belahan bumi lain yang jauh dari langkah kaki. Tetap disini untuk bermimpi, atau melangkahkan kaki walau seumur hidup menjalani. Kini, selimutkan aku dengan do'a. Itu juga merupakan langkah kecil kita.