Selamat malam.
Sayangnya aku bingung untuk siapa harus aku ucapkan selamat malam itu. Di pinggir kota yang sepi ini, di malam minggu yang hujan, aku kosong sekali. Walau sebenarnya otak ini penuh dengan isi berbau hal duniawi. Beberapa minggu terakhir sulit rasanya mendapatkan istirahat yang nyenyak. Tidur saat ayam sudah memulai kokokan pertamanya, tapi bangun kembali saat suara adzan mulai memecah sunyi pagi. Anehnya aku sangat menikmati semua ini. Setidaknya aku sangat sibuk sekali, menandakan kalau aku ternyata berguna, aku hidup seperti semestinya, tak seperti yang selama ini aku pikirkan.
Sayangnya aku bingung untuk siapa harus aku ucapkan selamat malam itu. Di pinggir kota yang sepi ini, di malam minggu yang hujan, aku kosong sekali. Walau sebenarnya otak ini penuh dengan isi berbau hal duniawi. Beberapa minggu terakhir sulit rasanya mendapatkan istirahat yang nyenyak. Tidur saat ayam sudah memulai kokokan pertamanya, tapi bangun kembali saat suara adzan mulai memecah sunyi pagi. Anehnya aku sangat menikmati semua ini. Setidaknya aku sangat sibuk sekali, menandakan kalau aku ternyata berguna, aku hidup seperti semestinya, tak seperti yang selama ini aku pikirkan.
Selamat malam.
Iya, buat kamu yang membaca tulisan ini, sesuaikan saja waktunya jika kau mebacanya saat sudah pagi, artinya selamat malam tidak akan cocok di perdengarkan. Setidaknya malam ini ada yang masih bisa aku lakukan, kalo menunggu untuk mempunyai waktu luang untuk bisa bercerita, rasanya tidak mungkin. Waktu luang bagiku adalah waktu untuk berfikir, duduk melamun dan minum kopi. Sayangnya untuk sekedar mengatur waktu itu saja aku harus menjadwalkannya jauh-jauh hari. Aku sendiri tipe seorang pelari, aku suka sekali dikejar. Dikejar waktu, dikejar deadline, dan tentunya dikejar wanita. Untuk hal terakhir yang aku sebutkan tadi, aku malas membahasnya. Aku tak ingin menyakiti hati malam ini.
Iya, buat kamu yang membaca tulisan ini, sesuaikan saja waktunya jika kau mebacanya saat sudah pagi, artinya selamat malam tidak akan cocok di perdengarkan. Setidaknya malam ini ada yang masih bisa aku lakukan, kalo menunggu untuk mempunyai waktu luang untuk bisa bercerita, rasanya tidak mungkin. Waktu luang bagiku adalah waktu untuk berfikir, duduk melamun dan minum kopi. Sayangnya untuk sekedar mengatur waktu itu saja aku harus menjadwalkannya jauh-jauh hari. Aku sendiri tipe seorang pelari, aku suka sekali dikejar. Dikejar waktu, dikejar deadline, dan tentunya dikejar wanita. Untuk hal terakhir yang aku sebutkan tadi, aku malas membahasnya. Aku tak ingin menyakiti hati malam ini.
Hujan ini, sudah lama sekali aku menanti, berharap bisa
istirahat dengan sangat mudah saat dingin mulai membungkus sekujur badan. Tapi
sayangnya dingin juga membawa kenangan. Sehingga terciptalah sebuah rumus gila.
Hujan + Kopi + Kenangan = Insomnia. Dan akhirnya, semua yang sudah terbungkus
rapi, mulai dibongkar lagi. Sesungguhnya kenangan itu tidak ada yang indah.
Seindah apapun aku mempunyai kenangan, tetap saja jika diingat aku akan merasa
kesal karena tak bisa mengulanginya lagi. Apalagi yang memang sudah menjadi
kenangan pahit, tentunya jika diingat lagi itu akan menjadi berkali-kali lipat
pahitnya, ibarat secangkir kopi yang diteguk pada malam minggu yang dingin di
sebuah ruangan kecil 3x4 meter.
Kita semua pasti punya mimpi, mungkin saja beberapa di
antara kalian punya mimpi yang sama. Tapi aku sangat yakin kalian takkan pernah
punya mimpi yang sama denganku. Karena malam ini, aku hanya ingin menghabiskan
waktu di tengah hujan berharap semua kenangan ini luntur tersiram air, dan
kembali dalam keadaan semestinya tanpa merasakan dingin. Mustahil? Tentu tak
ada yang mustahil di dunia ini.
Selamat malam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar