Kepada Putra Kecil Mantan Pacarku

Assalamualaikum Wr. Wb.

Semoga saja ketika kau mulai membaca ini kau belum pindah agama. Maklumah, perkembangan teknologi seperti sekarang mengubahnya menjadi Tuhan yang tak sadar telah banyak disembah remaja muda. Itu kalau di zamanku, aku tak tahu ketika di zaman ini. Surat ini aku tulis sekarang untuk beberapa tahun mendatang saat usiamu genap dua puluh. Kau bukan hanya harus pandai membaca tapi kau juga harus dewasa untuk menyikapi ini semua. Anggap saja surat ini sebagai kado pertama dan terakhir dari aku yang mungkin kau bingung siapa sebenarnya aku.

Perkenalkan, aku lelaki yang (dulu) mencintai ibumu. Ibumu juga dulu mencintaiku, namun semuanya berubah saat hari naas itu. Baiklah, sebelum kita berbicara lebih jauh mungkin kita harus mulai dari awal lagi. Kita mulai dengan bagaimana aku dan ibumu bertemu.


Waktu itu di sore Februari yang sedikit mendung kelabu.Wanita yang sekarang kau panggil ibu itu sedang duduk di bangku depan sekolahnya. Dia cantik sekali dengan seragam hijau bawahan hitam khas jurusan perhotelan. Dia tersenyum melihatku, dan saat itu entah darimana datangnya, rasa itu menyergapku lewat kibasan rambut yang hitam mengkilat itu. Sepersekian detik aku terjebak oleh imajinasi kalau dia harus kumiliki. Belakangan aku tahu, bahwa rasa itu bernama cinta. Cinta yang membuat aku sekarang masih merasa sedih, walau aku telah menemukan pengganti. Ibumu diam saja dengan gaya sok jual mahalnya ketika aku mulai menyodorkan tangan dan memperkenalkan diri. Aku kemudian berbicara panjang lebar walau tak satupun balasan yang terdengar dari sepasang daging tipis di atas dagu berbelah itu. Sampai pada suatu kalimat dariku bahwa akulah pelatih basket sekolahnya yang baru. Dia akhirnya memalingkan mukanya ke arahku disambut dengan permohonan maap atas pengabaian 30 menit yang lalu. Suasana kemudian mencair, sampai akhirnya aku dengan ranselku mulai pamit untuk pergi meninggalkannya seorang diri. Dan dia masih terlihat sama ketika satu jam yang lalu aku terpesona akan kecantikannya. Berakhirlah sudah hari paling indah dalam hidupku. 60 menit yang bahagia, sangat bahagia. Kalau kau berfikir ibumu pemain basket yang handal, kau salah besar. Dia bahkan tak bisa melempar mangga walau tinggi buahnya tak lebih di atas kepala. Dia adalah satu dari sekian banyak cheerleaders di sekolahnya. Coba saja kau buka lemari bajunya, mungkin dia masih menyimpan seragam merah di sela baju yang mulai dimakan rayap.

Setelah hari itu hubungan kami bertahap semakin tinggi. Sampai pada suatu pagi aku bertemu dengannya di sebuah pasar ketika aku disuruh ibuku berbelanja. Dia dengan daster bunga-bunga membuatnya begitu istimewa. Tak bisa lagi kutahan keinginanku untuk mengucapkan cinta di tengah keramaian itu. Aku menegurnya, dia terkejut sambil mengucapkan salam. Dalam debaran jatung yang berderap-derap aku mengatakan cinta. Sayangnya dia tak mendengar apa yang telah aku ucapkan. Aku mengulanginya setengah berteriak sehingga ibu-ibu yang sedang memilih ayam di sekitar kami mulai mengerditkan keningnya. Mukanya merah padam bak pualam disirami kuah stroberi. Dia diam tak berbunyi. Hatiku mulai sunyi oleh rona wajah penolakan itu. Beberapa detik kemudian dia mulai tersenyum dan mengangguk perlahan. Sempurna sudah hari itu. Kutinggalkan dia tanpa permisi. Dia heran sambil menggeleng. Ya, kadang cinta membuat sebagian kita hilang kewarasan. Sampai ketika aku mulai bersiul masuk ke dalam rumah, aku baru sadar kalau tadi ibuku menyuruh membeli terasi. Bergegaslah aku kembali ke pasar lagi.

Setelah hari itu kau bisa menebak kelanjutannya. Aku dan Ibumu menjalani biduk cinta 7 tahun lamanya. Ayah dari ibumu telah meninggalkan nenekmu waktu itu. Nenekmu harus bersusah payah menghidupi 3 anaknya yang masih sekolah. Sebagai seorang yang telah dikenal baik oleh keluarga, aku akhirnya mengajukan diri untuk ikut andil dalam memenuhi kebutuhan keluargamu. Aku akhirnya tinggal satu atap dengan keluarga ibumu. Tapi aku menjaga batasan sebagai orang lain di rumah itu. Demi Tuhan, aku tak pernah sekalipun macam-macam apalagi menodai kesucian ibumu. Aku jaga semuanya sampai suatu saat nanti aku dan ibumu di ikat oleh penghulu dalam dua kalimat magis, Ijab dan Kabul. Aku tidur sekamar dengan orang yang sekarang kau panggil paman. Saat itu pamanmu masih 10 tahun. Selalu kupeluk dia seperti aku menyayangi adik kandungku sendiri. Belakangan, aku selalu tak kuasa mengingat senyumnya. Dia yang dulu selalu kumarahi ketika pulang dari main dan bau matahari, dia yang selalu aku dongengkan ketika malam mulai kejam dengan dinginnya, dia yang selalu tertawa ketika lelucon mulai bergema. Aku rindu semua itu, dan aku yakin dia juga merindukanku.

Setelah 7 tahun yang indah itu, datanglah sebuah sosok yang sekarang kau panggil ayah. Aku bahkan tak tahu hubungan gelap itu menghasilkan janin yaitu dirimu sendiri. Aku mendapati ibumu yang mulai muntah-muntah saat kau berumur sebulan berupa segumpal darah. Aku mulai curiga, hingga akhirnya ku dudukan dia dan kami mulai bicara 4 mata. Belum sempat aku bertanya, dia mulai menutup mukanya dan keluarlah mutiara bening di sela-sela jarinya. Tanpa basa-basi, langsung saja aku tanya siapa gerangan pria durjana itu. Dia makin menangis menjadi-jadi. Lama aku mencoba menatap matanya yang tak kunjung menoleh ke arahku. Hingga akhirnya aku mulai lelah, ku tinggalkan saja dia di kursi itu sendiri, kukemasi barangku dan mulai pulang kerumahku lagi. Kamar yang sudah lama ku tinggal pergi kini seperti neraka yang siap menelanku dengan apinya. Ku lihat lagi deretan barang hantaran yang sudah ku persiapkan untuk meminang Ibumu bulan depan, aku menangis. Tangisan pertama yang menyulut tangisan berikutnya jika mengenang semua itu. Ingin rasanya kuhabisi saja nyawaku malam itu, hingga akhirnya akal sehatku melawan. Ku serahkan malam itu untuk mengadu sejadi-jadinya kepada Dia Yang Maha Mendengar. Aku begitu rapuh. Kulalui 35 jam dengan mata yang tak terpejam.

Beberapa hari berikutnya, aku berbagi cerita dengan teman-temanku. Ku ceritakan kepada mereka bahwa ibumu telah mengandung seorang putra. Mereka semua tertawa, sebagian lagi menyalamiku dan mengucapkan selamat. Ketika ku katakan bukan aku bapak dari cabang bayi itu, mereke murka seketika. Nyaris saja kau tak punya ayah jika tak ku tenangkan teman-temanku malam itu. Beruntungnya kami, Tuhan telah datang mendinginkan hati. Mereka kemudian memberi semangat dan motivasi basi. Tegar, sabar, dan ikhtiar adalah kata-kata yang keluar dari mulut mereka dan mengalun memenuhi warung kopi pinggir jalan itu. Tapi perasaan yang kurasakan saat itu jauh melampaui semuanya.

Akhirnya aku kembali ke rumah ibumu untuk mengemasi barangku yang masih tertinggal disana. Di ruang tamu sempit 3 x 4 itu aku telah ditunggu oleh mereka. 3 orang itu adalah nenekmu, ibumu, dan ayahmu. Ketika aku duduk, ibumu langsung menangis. Tapi ayahmu yang selalu tertunduk itu selalu memasang wajah bengis. Aku geram sekali padanya, ingin aku layangkan kepalan tangan ini ke wajahnya. Aku masih menghormati nenekmu, orang yang saat ini dan sampai kapanpun tetap ku anggap sebagai orang tua. Aku mulai membuka pembicaraan yang rancu dan agak sensitif itu.

"Jadi kapan rencana kalian melangsungkan resepsi?" Aku bertanya kepada mereka berdua.

Tangisan ibumu semakin menjadi. Dan sepintas kulihat wajah nenekmu menahan kesal kepada anak sulung perempuanya itu. Tapi dihadapanku dia membatu, dia tahu rasa sakit yang aku terima berkali-kali lipat dari apa yang dirasakannya.

"Aku mulai ragu, janin di dalam perutnya itu bukan anakku." Ayahmu biasa saja melontarkan ucapan itu.

Aku menahan pedih, sekaligus menahan amarah dalam hati. Ingin sekali aku bungkam mulut itu dengan belati kemudian merobeknya. Tapi kesabaranku selalu menjadi pemenangnya. Hingga akhirnya pertanyaan konyol sekaligus bodoh terucap dari bibirku.

"Sekarang dek, kau pilih saja aku atau dia! Jika kau pilih aku, aku akan berjanji menganggap anak itu anakku sendiri dan tak kan pernah aku ungkit lagi hari ini seumur hidupku. Tapi kau juga harus berjanji jangan pernah kau temukan anakmu dengan bajingan ini." Aku berkata sambil ku arahkan telunjukku tepat di depan wajah ayahmu.

Ibumu mulai meredakan tangisnya sambil mengumpulkan keberanianya untuk mulai berbicara. Kemudian sambil terisak keluarlah beberapa patah kata.

"Beri aku waktu bang, aku butuh menenangkan diri untuk memilih." jawabnya sambil menundukkan kepala.

"Kau enak punya pilihan dek, kau bisa pilih aku atau dia. Sedangkan aku hanya punya satu pilihan, yaitu kau! Sebegitu susahnya kau memutuskan hingga harus butuh waktu yang lama." Ucapku setengah berteriak.

Ibumu mulai menangis lagi, dia kemudian meninggalkan kami bertiga yang mulai membisu lagi. Aku kemudian bergegas pergi. Sebelum pergi ku ancam ayahmu. Jika tidak dinikahinya ibumu, maka nyawanya hanya tinggal sedikit saja.

Setelah hari itu aku memutuskan untuk melupakan ibumu untuk selamanya. Walau tak semudah itu bayang ibumu lenyap begitu saja. Kadang matanya yang bulat lewat berkelibat mengisi lamunan sore. Dari kabar angin kudengar ayah dan ibumu telah menikah dengan pesta yang sederhana. Tak ada undangan yang sampai kerumahku. Beberapa bulan berikutnya, kau mulai melihat dunia untuk yang pertama kalinya. Kau mungkin lupa warna yang kau lihat di hari kelahiran pertamamu. Tapi aku yang saat itu masih menahan pedih harus bisa tersenyum demi melihat mereka bahagia. Bukankah dulu aku pernah bilang kepada ibumu, kalau kebahagiaanya adalah kebahagiaanku juga. Biarlah semuanya aku simpan rapi demi kau yang harus melangkahkan kaki menapaki hidupmu yang luar biasa. Aku akan selalu mendo'akanmu walau pun kau bukan anakku.


Dari aku, mantan kekasih ibumu.



Nb: Beberapa bulan yang lalu, ibumu masih sering menelponku. Dia suka bercerita kalau ayahmu suka memukulnya. Saat kau membaca surat ini tolong bilang ayahmu agar jangan sering memukulnya lagi. Satu lagi pesanku; Jika kau punya uang nanti, sesekali kau belikan ibumu sepatu baru, agar surgamu tak lecet tersandung batu.

Komentar

  1. Hai, Andy. Aku suka sekali surat ini! Banyak membuatku tersenyum getir kala membaca nya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kak, aku cuma pemula. Semoga kedepannya bisa lebih bagus lagi.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan (lagi...)

Negeri yang Gemar Berisik