Kakak Menagih Janji

Hei Kak, apa kabar? Ahahaha.. basa basi yang sangat basi. Bukankah kita bertemu beberapa malam lalu di warung kopi bangunan tua yang baru dibuka itu. Tentulah kau baik-baik saja, kecuali malam itu kau alergi pendingin mobil pacarmu dan membuatmu tidak bangun 3 hari. Semoga saja tidak, do’a terbaik tercurah untukmu. Semoga kau sehat selalu, diberikan banyak rezeki hari ini, dan tentunya aku tak sabar menanti traktiran pecel ayam pinggir jalan punya pak de yang aku lupa namanya itu. Aamiin.


Ya, aku sudah janji untuk menulis surat ini, dan aku tahu jika tak ku tulis saat ini, ponsel ku bergetar sejuta kali karena PING!! Darimu. Ah, bingungnya aku mau nulis apa ini. Walaupun kita jarang bertemu, kau biasa hadir dalam ponselku di atas jam 10. Persepsi dan argumentasi yang gila kadang membuat kita beradu dalam diskusi panjang menjelang subuh. Biasanya kalo seperti itu, kau kutinggalkan dengan sengaja tanpa jawaban. Yaaa, daripada keesokan paginya aku harus dirajam atasan karena terlambat setengah jam.

Kakak ku yang cantik menawan (ini pujian, kalo dianggap sindiran terserah saja) tenang saja Tuhan bersama makhluk-makhluk yang setia bersujud padaNya. Pacaran 8 tahun bukanlah waktu yang lama jika kalian didasari cinta, terlebih cinta kepadaNya. Akan tiba saatnya dimana ketika pacarmu yang klimis itu menggenggam jarimu karena ibadah. Sabar saja, dan terus pantaskan dirimu di hadapanNya. Percayalah, jodoh terbaik selalu hadir untuk orang terbaik pula. Yakinkan saja calon suami mu itu tetap mencintamu karena Allah, dan bukan karena yang lainnya. Maka jodohNya takkan pernah ingkar untuk kalian berdua. Aku sangat menanti saat itu.

Aku lelaki, dia juga lelaki. Sebaiknya jangan terlalu lama, masa pendekatan diri dan keluarga ku kira sudah mencapai klimaksnya. Dan pasti bukan hanya aku yang selalu bertanya “Kapan nikah?”. Jangan fikirkan bisa makan dan hidup seperti apa. Jika kau halal baginya, kau sudah mencukupkan setengah agamanya. Apalagi yang kalian tunggu? Tunggu punya rumah mewah seperti hotel bintang 3? Atau menunggu bosan itu mulai melanda? Ayo cepat desak dia untuk datang meminang kerumah. Aku tak sabar mendengar nyanyian ijab dan kabul darinya kelak.

Cukup sekian surat dariku ini, kapan-kapan aku sambung lagi. Dan mungkin saja surat dariku berikutnya bukan untukmu lagi, tapi untuk anakmu. Semoga, aamiin.



Nb: Aku rasa sekarang kau boleh mencari sepatu tinggi untuk di atas pelaminan nanti. Aneh saja melihat calon suamimu yang tinggi bersanding dengan kau yang kuntet nanti. Ahahahaha, jangan marah...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan (lagi...)

Negeri yang Gemar Berisik