Bosse, Ayo Kesini!

Bosse, sebelum aku memulai surat ini, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu? Apakah kau pernah lelah mengirimkan surat ke seluruh penjuru nusantara? Apakah kau juga pernah berpikir untuk libur walau hanya sehari saja? Tidakkah bagimu lelah memilih dan memilah semua surat hingga akhirnya siap dikirim ke tujuan penerima? Itu hanya pertanyaan biasa yang kadang-kadang berdengung di kepala. Kalau boleh aku bercerita, dulu ketika masih kecil aku pernah punya cita-cita menjadi tukang pos. Di desaku, dulu pak pos di anggap sebagai dewa. Ketika dia mulai terlihat mengayuh sepeda di ujung gang, puluhan orang sudah siap dan rapi menunggu di teras rumah mereka. Masyarakat di sini berpikir, surat adalah replika celotehan si penulisnya. Jadi tak heran, ketika Ayahku dulu menerima surat dari Pak Camat, dia harus menyetrika kemeja putihnya dulu dan mengenakan kopiah hitamnya yang hanya disimpan untuk acara resmi di kecamatan untuk sekedar membaca surat itu. Dia membacanya penuh hikmat, sambil mengangguk-anggukan kepalanya seperti Pak Camat itu sedang berada di hadapannya. Padahal isinya sangat sederhana, undangan ngopi ke balai desa. Itu dulu sekali, sebelum tekhnologi menguasai ibu pertiwi. Sekarang, Pak pos yang sudah tua renta itu masih bekerja, dan kerjanya luar biasa ekstra. Dia sekarang mengirimkan beberapa paket yang besar di keranjang samping kanan kiri motor bututnya. Tak ada lagi wajah senyum dan ucapan terima kasih yang besar dari si penerima surat yang dulunya sering dia terima. Melihat itu semua, cita-citaku pudar seperti malam memakan langit jingga saat senja.


Bosse, aku sudah baca suratmu di poscinta.com, dan terima kasih untuk undangan gatheringnya. Jika mengingat kota Bandung, aku selalu membayangkan bentuk surga di alam baka. Sayangnya aku belum pernah menjejakkan kaki ke sana. Aku mengenal Bandung dari sosial media yang selama ini aku baca. Bandung sangat indah ketika dia mulai menari di lini masa, dan sangat istimewa ketika di ceritakan kembali oleh temanku yang baru saja pulang dari sana. Katanya di sana kiblat musik Indonesia, disana juga gudangnya barang-barang terbaik dengan harga murah, dan yang lebih penting, Bandung adalah kota yang asyik untuk jatuh cinta. Aku punya teman SMA yang sedang kuliah di Bandung. Ketika dia mudik lebaran kemarin aku melihatnya menjadi sosok yang berbeda. Dia yang dulu gondrong berantakan dan lebih mirip bajingan berubah menjadi sosok klimis yang manis. Dalam hatiku selalu bertanya, apa yang mengubah dia? Bandung kah? Mungkin saja.

Bosse, aku sangat menyesal karena tak bisa pergi kesana nanti. 1 Maret adalah tanggal sakral untukku. Aku selalu menyalakan lilin setiap jam 12 malam pada tanggal 1 sebagai tanda datangnya bulan kelahiranku. Dan tak lupa pula aku berdo’a agar cintaku tak kandas pada bulan ke-3 kalender masehi itu. Lagipula bukan hanya itu alasan ketidakhadiranku nanti. Lelaki desa yang bodoh ini mungkin takkan mampu membeli tiket pesawat atau kapal laut. Kalaupun terbeli aku sangat tak menikmati perjalanan itu nanti. Terakhir aku naik kapal laut, aku mabuk selama 3 hari. Dan aku tak mau naik pesawat terbang, entah karena takut mati atau takut dengan sesuatu yang tinggi. Andai saja Doraemon dengan senang hati meminjamkan pintu kemana saja, mungkin aku akan kesana. Tapi itu hanya hal mustahil dalam imajinasi saja, Tuhan lah yang menentukan semua.

Bosse, aku rasa asyik jika gathering itu dilaksanakan di kota ku saja. Di Pontianak, pada tanggal 22-23 Maret nanti ada sesuatu yang namanya titik kulminasi. Konon katanya jika kita berdiri di sekitar Tugu Khatulistiwa tepat jam 12 siang, bayangan kita lenyap seketika. Sebuah fenomena langka yang hanya terjadi 2 tahun sekali. Disitu nanti kau juga bisa berpindah dari belahan bumi utara ke belahan bumi selatan dalam hitungan detik saja, begitu pula sebaliknya. Lalu ketika matahari mulai condong ke barat, kita bisa seruput senja di tepian Kapuas yang fenomenal itu. Atau sekedar menikmati malam di atas perahu Galaherang yang membelah kota dengan riak airnya. Para peserta yang hadir nanti bisa di suguhkan dengan alunan lembut lagu melayu khas pesisir selat Malaka. Akan banyak cinta disini nanti, seperti aku yang selalu jatuh cinta dengan kota ini dan tentu saja wanita cantik di dalamnya.

Bosse, sekian suratku. Kapan-kapan kita sambung lagi. Aku rasa kita bisa mengenal lebih dekat satu sama lain. Terutama jika kau ingin berbagi keluh kesah tentang penatnya pekerjaanmu. Dan tentu saja aku juga akan menceritakan bagaimana kotaku yang indah ini membuatku tak mau pergi jauh walau cuma sehari.



Nb: Sampaikan salamku ke @catatansiDoy yang super keren. Disaat beberapa temanku mengeluh karena suratnya tak di antar oleh Pak posnya. Aku tetap tenang, karena dia yang luar biasa tak pernah melalaikan tugasnya walau tanggal merah.

Komentar

  1. Halo Andy,

    bosse nggak pernah lelah loh ngater surat. karena meski 30 hari kerja, tapi bosse liburnya setahun hehehe
    bosse mau banget ke Pontianak. kapankapan poscinta bikin jalanjalan ke sanalah. kamu yang jadi guidenya yah....
    kangpos @catatansidoy emang jagoan kesayangan bosse. Akan bosse sampaikan salammu.

    salam penuh cinta,
    bosse @poscinta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sini Bosse, akan ku jamu kau dengan kopi pahit yang diaduk 21 kali putaran. Kata temanku kita bisa melupakan penat dengan itu, juga masa lalu.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan (lagi...)

Negeri yang Gemar Berisik