Ketika HD tak Lagi High Definition

Masih teringat malam kemarin ketika  kita dan Evan saling serang lewat kelakar mention di media sosial. Dan kau tetap jadi objek penderitanya. Status yang kau bagikan sepanjang Februari ini sungguh tak biasa. Entah apa yang telah terjadi di bulan ini, sepertinya itu sangat tak menyenangkan untukmu. Memang Februari selalu banyak menyimpan cerita. Kalau boleh aku cerita, di bulan ini aku pernah jatuh cinta, ditinggal nikah, diselingkuhi, dikhianati, dibully, dicubit di pipi, dicium di dahi, dan bermimpi yang sangat tinggi. Februari memuang bulan yang sangat istimewa, saking istimewanya hari di bulan ini hanya ada 28 dan terkadang 29. Tapi yang lebih penting di Februari adalah banyak cinta yang tumbuh lengkap dengan durinya.


Kita memang jarang bertegur sapa di dunia nyata. Aku lebih akrab dengan mantanmu yang teman sekelas kuliahku dulu. Sejujurnya aku mengenalmu juga secara tidak langsung dari dia yang (mungkin) telah menyakitimu. Kita hanya saling bertukar aksara lewat mention di lini masa, lewat tag di lini kala, juga lewat comment di beranda. Selebihnya kita hanya teman biasa.

Sebagian orang mungkin bertanya apa maksud dari judul suratku ini. HD adalah inisial yang kuberikan untuk menggambarkan sahabatku yang sekarang telah menjadi mantan pacarmu. Kau mungkin lebih mengenalnya sangat jauh dibandingkan aku yang hanya sesekali keluar ngopi waktu kami masih di bangku kuliah dulu. Sekarang dia entah kemana, ku cari dia di Beranda akun Facebooknya pun sudah lama tak dibuka, sebagian foto yang dipostingnya sudah jadi sarang laba-laba. Ku tanya beberapa teman yang dulu dekat dengannya, mereka juga tidak menyimpan nomor ponselnya. Setidaknya jika dia bisa kuhubungi, akan kusampaikan beberapa keluh kesahmu dalam beberapa hari terakhir ini.

Yun, jangan terlalu kau fikirkan masa lalumu. Seorang teman pernah memberitahuku bahwa; “Kaca spion di buat untuk melihat ke belakang sekali-sekali bukan untuk bekali-kali. Lagipula kita harus tetap berjalan maju ke depan, dan spion digunakan sebagai pedoman agar kita berhati-hati” begitulah kira-kira.

Eh iya, sekarang kau sudah menggunakan jilbab. Semoga kau tetap istiqomah ya... Dan ku harap jilbabmu bukanlah pelampiasan masa lalumu yang kelam. Tutuplah dirimu semata-mata karena cinta KepadaNya, bukan karena alasan lain. Lagipula, ketika kau mulai memperbaiki dunia dalam dirimu, Allah akan memperbaiki dunia di luar dirimu. Pantaskan dirimu, dan jodoh pasti bertemu. *benerin kopiah


Akhir kata, maap jika kau tersinggung dengan leluconku dengan Evan kemarin. Setidaknya kami hanya ingin membuatmu bahagia dengan cara yang tak biasa. Sesederhana itu saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan (lagi...)

Negeri yang Gemar Berisik