Mendiang Dosen Pembimbing
Dengan hormat,
Walau dirimu sudah tidak di dunia ini lagi, hormat ini takkan luntur. Entah kau bisa membaca ini atau tidak di tempat mu, aku tak peduli. Hatiku tak kuasa menahan rindu untuk tetap menulis ini. Kau adalah alasan aku bisa berlari saat ini, walau tak sepenuhnya kau menyelesaikan tugasmu mendampingi sampai ke meja penghakiman skripsi ku waktu itu. Aku tetap bangga karena bisa menyelesaikan apa yang kau mulai walau hasilnya tak memuaskan seperti yang kita inginkan.
Maapkan aku Pak, waktu itu aku tak sempat mengantarmu ke pusaramu. Sejujurnya kabar kepergiaanmu baru aku terima 2 hari setelahnya. Tahu perasaanku saat itu? Aku takut sekali. Aku takut tak bisa melanjutkan skripsiku waktu itu. Aku takut orang yang menggantikanmu adalah setan berwujud malaikat yang kapan saja dapat menyeret aku ke keputusasaan. Aku takut tak ada lagi yang senantiasa memberi dorongan dengan kerlingan matamu di bawah kepala botak itu. Tapi akhirnya tulisan berupa coretan-coretan manismu itu seolah hidup dan berkata "Apalagi yang kau tunggu dungu!! Kejar masa depanmu!!"
Aku ingat hari terakhir kita bertemu. Siang itu kita bertemu di lorong kampus berdinding abu. Kau memacu langkahmu, aku terus mengejarmu hingga akhirnya kau mengalahkan ego mu untuk berhenti dan berbicara sepenggal kalimat "Datang saja kerumah Bapak malam ini, ba'da isya. Jika kau terlambat, pintu akan aku tutup". Kalimat sederhana yang membuat aku bahagia. Malamnya aku datang selepas maghrib dan menunggu di warung depan rumahmu. Rumahmu sangat sederhana, tidak ada mobil mewah seperti para petinggi kampus pada umumnya. Hanya ada motor bebek tua tahun 90-an dan sepeda fixie terpakir rapi di halaman. Hingga akhirnya pintu itu terbuka, dan kau menyapa. Ternyata raut wajahmu berbeda ketika kita bertemu tadi pagi. Mungkin saja karena kau baru mandi, atau aku maklumi jika seragam yang kau pakai memaksamu memikul wibawa sebagai kepala jurusan. Tenang saja pak, aku memakluminya.
Sekarang aku sudah menjadi seorang Guru. Terima kasih Pak! Aku yakin ini semua berkat jasamu. Seandainya boleh, aku ingin menjadi seperti kau nanti. Jika pun tidak, biarkan ilmu yang kau berikan ini aku tularkan ke anak didik ku nanti. Kau memang sudah pergi, tapi ilmu yang kau berikan selalu hidup dalam setiap ucapanku nanti.
Pak, bolehkah aku bertanya? Apakah di surga kau tetap mengajar mata kuliah statistik? Kalo iya, izinkan aku nanti menjadi mahasiswa mu lagi. Aku lupa bagaimana rumus pembagian supaya kenangan dan kesedihan menghasilkan rindu = 0. Aku lupa bagaimana caranya membuat pertidaksamaan antara semangat dan harapan agar membuat mimpi menjadi tak terhingga. Ajarkan aku lagi tentang hal-hal mudah bagaimana jalan pintas menuju surga. Aku selalu melihat semuanya menari dalam kepalaku ketika malam mulai datang.
Terima kasih Dr. H. Ahmadi, M.M. Aku tak mungkin bisa membalas jasamu. Biarkan saja aku berhutang, dan tunggu aku membayarnya di surga nanti. Semoga saja.
Salam rindu dari mahasiswa dungu mu.
Komentar
Posting Komentar