Terima Kasih Telah Memarahiku
Assalamualaikum Wr. Wb.
Ketika kau baca surat ini aku mungkin bakalan susah
dihubungi. Aku mungkin hanya akan pulang sebulan sekali, dan bisa jadi setahun
sekali. Sejujurnya tugas negara menjadi guru di pedalaman Kalimantan sungguh
menyenangkan. Namun hidup tetaplah punya dua sisi berlawanan. Yang tidak kusuka
ketika berada disini adalah jauh dari orang tua, iya... jauh darimu. Sengaja
surat ini aku tinggalkan di laci meja kerjamu biar tak sengaja nanti ketika kau
sibuk mengerjakan laporan keuangan kantor, kau bisa istirahat sejenak untuk
membacanya. Sebuah surat yang aku tulis sederhana, sesederhana hubungan kita
sebagai anak dan ibu.
Aku masih ingat perdebatan kita di akhir Juni 2007 lalu. Aku
masih 17 tahun waktu itu, masih sangat muda untuk mengambil keputusan. Saat itu
kubilang padamu bahwa aku ingin kuliah ke jurusan Fisipol. Alasanku sangat
sederhana, kupilih jurusan itu karena aku menghindari matematika yang aku
benci. Lagipula sejak SMA dulu aku selalu dikenal sebagai siswa yang vokal.
Aku terkenal sebagai pembuat revolusi, senang berdebat, dan tak pernah mau
kalah. Wajar saja kalau aku ingin menjadi politisi. Tapi kau dengan segala
argumen pedasmu tetap ingin aku menjadi seorang guru, pekerjaan yang sudah
mendarah daging di keluarga kita. Katamu, sekarang guru tak identik dengan Oemar Bakrie tapi sekarang sudah seperti
Abu Rizal Bakrie. Jadi guru sekarang
adalah profesi menjanjikan. Saat itu kuturuti saja, kau memang yang punya
kuasa. Akhirnya aku masuk ke Perguruan Tinggi swasta sebagai mahasiswa jurusan
pendidikan olahraga. Setidaknya aku bisa sedikit lega, aku tak perlu dipaksa
bercinta dengan matematika. Tapi ternyata aku salah. Memang sepanjang
tahun-tahun pertama, semuanya hanya soal teori sederhana dan banyak praktek
yang cenderung mudah. Memasuki tahun terakhir perkuliahan sampai menuju
ruang sidang skripsi ternyata hampir membuatku gila. Adalah sebuah mata kuliah
magis yang diberi nama keren “Statistik Olahraga”. Andai saja saat itu aku
menyerah, sekarang aku pasti masih mahasiswa tingkat akhir bukan seorang
sarjana.
Satu tahun yang lalu aku mendaftar PNS untuk kali pertama,
mencoba untuk jadi Guru Penjasorkes Pertama. Tapi itu juga merupakan
kegagalanku yang kesekian kalinya. Ku lampiaskan keterpurukanku kepada setiap
orang di rumah. Akhirnya aku berfikir, “Bukankah itu semua rencana dariNya?”.
Mungkin aku dinilaiNya belum pantas untuk mendidik generasi muda penerus
bangsa. Mungkin masih banyak tingkah dan etika yang harus dirubah. Atau mungkin
aku sedang diuji agar naik ke level yang lebih tinggi lagi. Sampai akhirnya aku
habiskan satu tahun terakhir untuk memantaskan diri. Dan bersyukurnya aku,
sekarang aku sudah lulus dalam tes CPNS kemarin. Dan lagi-lagi Tuhan memberikan
ujian ini. Tempatku mengabdi sekarang adalah daerah dengan keterbatasan
segalanya. Jauh sekali waktu dulu kita tinggal bersama.
Ibu, terima kasih dulu sering memarahiku. Semua baru aku
rasakan sekarang ketika hidup dalam perantauan. Emosi-emosimu yang kadang
meledak tak sadar membentukku dalam kemandirian. Kadang aku rindu dengan teriakan
itu. Disaat malam sepi mulai menyelimuti hari, tak ada lagi yang biasa
berteriak untuk sekedar menghidupkan lampu teras. Dalam perantauan ini tak ada
lagi bau terasi yang tercium ketika kau mulai membakarnya. Tak ada lagi yang menyuruhku
untuk membuang sampah di ujung jalan. Aku merindukan semua itu.
Bulan lalu aku mengantarkan teman ke pusara ibunya. Kami
kemudian mengirimkan ibunya do’a. Aku jadi teringat hari itu. Saat dimana aku
sangat merasakan bagaimana beruntungnya aku masih memilikimu. Setidaknya aku
masih bisa meminta maap jika aku melakukan kesalahan, atau sekedar
membahagiakanmu dengan membelikan sepasang sendal baru. Temanku yang kemarin
hidupnya luar biasa sukses itu, tak kuasa menahan tangisnya ketika berdo’a dan
memohon ampun kepada sepasang nisan bisu. Dia selalu menyesal ketika melihat
kesuksesannya di dunia berbanding terbalik dengan pengabdian pada ibunya yang
telah tiada.
Ibu, mumpung kita semua masih diberikan waktu oleh Tuhan,
maukah kau memapkanku atas dosa-dosaku yang dulu? Aku janji akan selalu
mengirimimu do’a dalam setiap sujud panjangku. Setidaknya hanya itu yang bisa
aku lakukan sekarang.
Dari aku, anak nakalmu.
Selagi ada waktu, usahakan yang terbaik.
BalasHapusJadi, Kopi Pagi Pahit ini rupanya seorang pendidik.
Bagaimana di perantauan sana? Sudah bisa beradaptasi?