Surat Terbuka untuk Menteri Pendidikan

Selamat pagi!

Semoga Bapak selalu di beri kekuatan untuk memimpin negeri ini terutama dalam sektor pendidikan. Perkenalkan, namaku Andy Kurniawan, S.Pd. Saat ini saya masih tercatat sebagai seorang Guru honorer di salah satu sekolah pinggir Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Saya juga relawan @turuntangan saat anda menjadi bakal calon Presiden dari Konvensi Capres Partai Demokrat dulu. Cukuplah sampai disitu perkenalan saya.


Maksud kedatangan surat saya ini adalah ingin mengapresiasi kinerja bapak selama tergabung dalam kabinet ‘Kerja’ bentukan Presiden kita. Terutama soal penghentian Kurikulum 2013. Dengan keputusan yang telah bapak ambil, banyak sekali guru-guru yang tertolong dari Kurikulum yang terkesan dipaksakan itu. Selain karena belum efektifnya sosialisasi, terhambatnya pasokan buku menjadi penghambat bagi kami untuk menerapkannya.

Saya tidak meragukan prestasi anda dalam dunia pendidikan. Tapi Indonesia besar Pak! Indonesia bukan hanya Jawa dan Sumatra. Ada ribuan pulau yang punya masalah pelik tentang pendidikan mereka masing-masing. Ada ratusan kilometer persegi daerah terpencil yang bahkan sekolah mereka sulit di akses kendaraan roda dua. Ada jutaan anak di perbatasan yang masih ragu dengan warna bendera kebangsaan karena menggiurkannya tawaran negeri tetangga. Masih banyak anak-anak Indonesia yang bermimpi dengan jargon ‘sekolah gratis’ padahal untuk mencapai sekolah mereka kadang harus mengeluarkan biaya besar karena mahalnya bahan bakar di pedalaman. Dan kita sama-sama tahu angka buta huruf ibu pertiwi masih memprihatinkan untuk zaman serba canggih seperti sekarang.

Kami berharap optimisme yang selalu bapak tularkan lewat semangat kepada relawan mengalir ke semua pelosok negeri. Negeri ini darurat pendidikan pak. Terutama moral dan etika. Tayangan televisi yang tidak mendidik dan lajunya akses informasi dan komunikasi yang tak terbendung merusak sebagian akhlak anak bangsa. Jika saja kita tak bisa menghentikan semua hal itu dari sekarang, bagaimana mungkin kita bisa memanen manusia seperti Bung Karno dan Ki Hajar Dewantara 20 tahun yang akan datang? Bagaimana mungkin ada Chris John dan Bambang Pamungkas lagi jika narkotika juga meracuni sebagian generasi muda.

Sekian surat dari saya Pak. Semoga tetap bijaksana dalam mengambil keputusan. Dapat salam dari murid-murid saya disini.


Nb: Kenapa dana BOS Triwulan 1 tahun 2015 sampai sekarang belum cair? Kami belum gajian Pak! Bagaimana mungkin kami bekerja lebih efektif kalau untuk transportasi dan akomodasi sehari-hari kami harus ngutang sana-sini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan (lagi...)

Negeri yang Gemar Berisik