Wanita Berjilbab di Hari Jum'at
Sebenarnya aku malu menulis ini. Tapi bukankah cinta bisa
datang kapan saja, dimana saja, dan bagaimana caranya. Itu sudah ketetapan-Nya.
Aku memang egois, menginginkan cinta kepada kau yang telah bergandeng tangan
dengan dia. Sejujurnya, cinta itu datang sebelum aku tahu kau telah berdua.
Sejak pertemuan pertama itu dan (tak) sengaja mata kita bertemu, kau seakan
menikam hatiku dengan panah belati asmara. Entahlah, aku tak begitu mengingat
pertemuan itu. Yang ku ingat hanya lengkungan merah jambu melambai-lambai
seakan memberikan sugesti “ayo cium aku, bajingan!!”. Ah, mengingat itu dadaku selalu berkecamuk.
Jabatan tangan kecilmu itu membujuk aku agar tahu lebih
banyak tentangmu. Tapi lelaki ini terlalu menjaga wibawanya. Bodoh sekali aku! Andai
saja dari awal aku banyak bertanya, tentu takkan seperti ini akhirnya. Akhirnya
ku cari kau di mesin pencari online, kau ternyata sudah punya kekasih. Sialnya
lagi kapal cintamu telah berlabuh di hati ini. Andai saja aku kuat, aku angkat
jangkarnya sendiri kemudian membuangnya jauh ke tengah lautan kosong. Sekali
lagi, Bodoh sekali aku!
Hai, wanita berjilbab di hari jum’at. Putuskan saja pacarmu!
Aku memang tak lebih baik dari si dada bidang itu. Tapi aku yakin bisa
membahagiakanmu. Apakah aku egois? Tentu saja, aku tahu siapa yang bisa aku
perjuangkan. Kamu adalah alasan yang paling masuk akal untuk membuatku
menggila. Siapa suruh kau begitu menawan. Siapa suruh kau begitu mempesona.
Siapa suruh kau membuatku jatuh cinta. Ah, membayangkanmu saja hati ini meletup-letup,
apalagi sempat memilikimu. Sial!
Jika kau jadi aku, apakah kau akan se-emosional aku? Aku
benci harus jujur seperti ini. Tapi rasa ini sungguh sangat menggangu, dan ini
semua akibat dirimu. Bolehkah aku memanggilmu sayang? Terserah saja kau mau
bilang tidak, aku akan tetap mengucapkannya.
Sekali lagi sayang, putuskan saja pacarmu! Kemudian aku akan
akan meminangmu dengan puisi sebagai maharnya.
Komentar
Posting Komentar