Maap Aku tak Bisa Hadir di Pernikahanmu
Assalamualaikum.
Kemarin ketika aku membuka beranda Facebook, aku membaca
sebuah postingan teman kuliahku dulu. Aku membaca sebuah surat yang dikirimkan
kepadanya oleh temannya sendiri. Temannya yang sekarang jauh di luar kota sana
dan sama denganku sebagai peserta #30HariMenulisSuratCinta. Suratnya bagus
sekali. Dia bercerita tentang kenangan masa SMA ketika mereka masih bersama,
kemudian kisah setelah mereka lulus dan akhirnya terpisah ruang dan waktu.
Memang masa SMA membuat sebagian dari kita tidak akan lupa dengan kenangannya.
Saat membaca surat temanku itu, aku langsung teringat akan sosokmu kawan. Kawan
perjuangan!
Minggu lalu, kau mengirimiku pesan singkat. Isinya sederhana
saja, sesederhana kau yang memang biasa aku kenal. Pesan singkat itu berisi
undangan agar aku menghadiri pesta pernikahanmu dengan gadis berkerudung abu
yang sering kau bawa kerumahku dulu. Maap kawan, aku tak bisa hadir. Padahal
jauh-jauh hari aku sudah tau dan aku sudah mempersiapkan keberangkatan itu.
Namun apa daya, manusia maha rencana tapi Tuhan Maha Menentukan. Aku
benar-benar tak bisa pergi waktu itu karena hal konyol dan menyedihkan. Jika
aku kembali teringat saat kau menelponku ketika sedang duduk di pelaminan itu,
aku selalu merasa bersalah dan takut untuk menelponmu. Takut jika kau marah
lagi seperti beberapa tahun lalu, takut jika kau menjauhiku lagi. Dulu ketika
kau tak ada menemani hariku, aku terperosok jauh dalam lubang kemaksiatan. Aku
menjadi setan yang dulu sama-sama kita takutkan.
Kawan, kita adalah teman seperjuangan. Masih ingatkah kau
saat masa SMA kita di malam minggu yang kelam dulu. Kau menjemputku kemudian
kita mengelilingi seisi kota tanpa tahu tujuan kita. Dan kita jomblo yang
sungguh bahagia. Motor tua hitam milikmu itu selalu menemani hidup rock n roll kita. Aku raja kau pun raja,
kita terus mencari ratu dan para selir tentunya. Kau memang lebih tampan dariku,
tapi dalam hal merayu wanita pastilah aku jagonya. Wanita mana yang tak luluh
hatinya jika tiap hari aku kirimi puisi yang sebelumnya sudah kusemprotkan
parfum aroma kasturi. Setiap bertemu wanita, sudah pasti mereka terkesima
denganmu. Tapi untuk beberapa hari berikutnya, dia pasti bertekuk lutut padaku.
Hehehehe... Jangan marah.
Kita sudah melalui banyak waktu bersama, bahkan sebagian aku
sudah lupa. Yang ku ingat hanya kebahagiaan ketika melewati detik demi detik dengan
tawa bahagia. Dan cara tertawamu adalah yang paling aneh dan selalu ku ingat.
Kau sulit menahan tawa, walau itu sangat dilarang Jendral bintang lima
sekalipun. Setiap kau menahan tawa, tubuhmu bergetar, wajahmu mulai pucat dan
datar, dan kau memancing gelak tawa disekitar. Kau memang tiada duanya kawan.
Kisahmu ku angkat dalam cerita senja bersama bidadariku, juga ku ceritakan
kelak kepada anak-anakku ketika mereka dewasa nanti. Bahwa ayahnya yang bodoh
ini punya sahabat yang menangis ketika aku bersedih, tertawa ketika aku
bahagia, dan selalu marah ketika aku mulai salah.
Bagaimana malam pertamamu kemarin? Sukses kah? Hahahaha. Aku
hanya bercanda. Kau pasti sedang melewati masa-masa bahagia berdua dengannya.
Aku beritahu sesuatu yang mungkin kau belum tahu tentang wanita. Jika sudah
menjadi istri, wanita memang seorang pelayan sejati. Dan wajar saja jika
permintaanmu selalu ingin dituruti. Tapi sekali-sekali kau boleh mengambil
tugasnya. Seperti mengaduk cangkir kopi kemudian meletakkannya di meja samping
tempat tidur sambil mencium keningnya dan berkatalah; “Sayang, kopi ini sudah
aku aduk dari sebelum fajar, kau pasti tak mau melihatnya dingin saat angin
mulai membelainya. Ayo duduk bersamaku dan ceritakan mimpimu tadi malam”. Kau
akan mendapati dia bangun dengan wajah yang merona karena bahagia.
Cukup sekian surat dariku, kapan-kapan kita sambung lagi.
Sampaikan salamku ke istrimu. Bilang juga istrimu kalau dia juga dapat salam
dari istriku. Kurasa mereka berdua tak sabar untuk bergossip lagi. Juga untuk
orang tuamu. Aku kangen nasihat ayahmu, dan belaian lembut ibumu. Bagiku mereka
juga orang tuaku.
nb: Bulan depan mungkin aku akan berkunjung ke kotamu. Kalau
ibumu masih menyirih, tolong siapkan perlengkapan menyirihnya. Kurasa gigiku
mulai keropos, aku kangen menyirih lagi.

Merinding baca tulisan ini. Bagus sekali. Suka!!!
BalasHapusSemoga sahabatmu bisa sepuitis dirimu kepada istrinya. :D
Terima kasih kakak. 😊😊
Hapus