Sudah lama kita tak bersua. Aku masih ingat jersey nomor 5
itu berkibar-kibar mengikuti pemiliknya meliuk-liuk indah di lapangan. Bulir
keringat di sekujur tubuh itu membuatmu tampak seribu kali lebih menarik. Itu
juga salah satu alasan mengapa akhirnya aku memilih basket untuk ku tekuni.
Sayangnya kau terlalu hebat untuk kulampaui. Aku baru belajar memantulkan bola,
kau sudah menyempurnakan tembakan tiga angka. Terima kasih atas motivasi tak
langsungnya.
Hai gadis kecil, mengapa kau selalu saja menganggap ku sama
seperti dulu. Sesakit itu kah perihmu? Bahkan ketika ku tanya kau lewat pesan
singkat di media sosial kau ketus tak terbantahkan. “Kenapa kembali lagi? Datang
hanya untuk mengingat yang dulu, aku lelah”. Padahal aku hanya ingin menanyakan
kabarmu, tidak lebih dari itu. Masih teringat tentang janji dulu ketika rindu
itu mulai beradu, itukah alasanmu membatu? Maapkan aku.
Kita adalah jodoh yang menyerah pada takdir. Andai saja dulu
kita bisa sama-sama saling merakit asa, tentu semua tak sepelik ini urusannya.
Andai saja kau mau memaapkanku ketika aku datang di suatu pagi yang biru itu,
tentu saja kita masih sebuah ikatan yang biasa disebut cinta. Andai saja dulu
aku tak khilaf dan membuat hatimu terluka, tentu akan ada cerita baru dalam
lembaran bisu hidup kita. Sekarang kita hanya bisa ber andai, dan tentunya
semua sudah di tuliskan lengkap dengan detail oleh Yang Maha Segala.
Kau mungkin bukan yang pertama bagiku, bukan juga yang
terakhir, tapi kau adalah kisah yang tak ter peri kan indahnya. Aku dulu
penganggum rahasiamu. Jika kau ingat ketika pesan itu mulai menggetarkan
ponselmu, aku berdebar menunggu balasan dari ujung jari kecilmu. Dan tetap saja
kau dingin seperti samudra, dan aku tertantang untuk mengarunginya. Bahkan
ketika aku mulai menghunus pedang siap menancapkan ke hatimu, kau masih setegar
batu karang. Hingga akhirnya kau bersedia naik ke mahligai ini, kemudia Dia
mulai menghancurkannya. Karam sudah cinta kita.
Ini mungkin surat terakhirku untukmu. Aku sudah janji untuk
tidak datang lagi sebagai apapun. Jika kau mencariku, lihat saja gugusan Andromeda
ketika malam mulai bercahaya. Atau jika tidak, ceritakan saja pada anakmu nanti
kalau aku pernah hidup dalam singgasana kosong jiwamu. Aku akan tetap hidup
dalam pulau pengasingan yang kau ciptakan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar