Banner Buda Blogger

Komunitas Blogger Pontianak

Kamis, Februari 05, 2015

Hai Nomor 5!!

Sudah lama kita tak bersua. Aku masih ingat jersey nomor 5 itu berkibar-kibar mengikuti pemiliknya meliuk-liuk indah di lapangan. Bulir keringat di sekujur tubuh itu membuatmu tampak seribu kali lebih menarik. Itu juga salah satu alasan mengapa akhirnya aku memilih basket untuk ku tekuni. Sayangnya kau terlalu hebat untuk kulampaui. Aku baru belajar memantulkan bola, kau sudah menyempurnakan tembakan tiga angka. Terima kasih atas motivasi tak langsungnya.


Hai gadis kecil, mengapa kau selalu saja menganggap ku sama seperti dulu. Sesakit itu kah perihmu? Bahkan ketika ku tanya kau lewat pesan singkat di media sosial kau ketus tak terbantahkan. “Kenapa kembali lagi? Datang hanya untuk mengingat yang dulu, aku lelah”. Padahal aku hanya ingin menanyakan kabarmu, tidak lebih dari itu. Masih teringat tentang janji dulu ketika rindu itu mulai beradu, itukah alasanmu membatu? Maapkan aku.

Kita adalah jodoh yang menyerah pada takdir. Andai saja dulu kita bisa sama-sama saling merakit asa, tentu semua tak sepelik ini urusannya. Andai saja kau mau memaapkanku ketika aku datang di suatu pagi yang biru itu, tentu saja kita masih sebuah ikatan yang biasa disebut cinta. Andai saja dulu aku tak khilaf dan membuat hatimu terluka, tentu akan ada cerita baru dalam lembaran bisu hidup kita. Sekarang kita hanya bisa ber andai, dan tentunya semua sudah di tuliskan lengkap dengan detail oleh Yang Maha Segala.

Kau mungkin bukan yang pertama bagiku, bukan juga yang terakhir, tapi kau adalah kisah yang tak ter peri kan indahnya. Aku dulu penganggum rahasiamu. Jika kau ingat ketika pesan itu mulai menggetarkan ponselmu, aku berdebar menunggu balasan dari ujung jari kecilmu. Dan tetap saja kau dingin seperti samudra, dan aku tertantang untuk mengarunginya. Bahkan ketika aku mulai menghunus pedang siap menancapkan ke hatimu, kau masih setegar batu karang. Hingga akhirnya kau bersedia naik ke mahligai ini, kemudia Dia mulai menghancurkannya. Karam sudah cinta kita.


Ini mungkin surat terakhirku untukmu. Aku sudah janji untuk tidak datang lagi sebagai apapun. Jika kau mencariku, lihat saja gugusan Andromeda ketika malam mulai bercahaya. Atau jika tidak, ceritakan saja pada anakmu nanti kalau aku pernah hidup dalam singgasana kosong jiwamu. Aku akan tetap hidup dalam pulau pengasingan yang kau ciptakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar