Kisah 13 Puisi

Selamat pagi.

Hai gadis 18 Februari, aku rasa mungkin saja kau masih mengingatnya. Mengingat tanggal hari ini tentunya. 9 tahun yang lalu kisah ini bermula saat kau dan aku masih sangat belia. Di siang yang sendu karna mentari tertutup awan kelabu itu aku mengungkapkan cintaku. Di sudut kelas yang hanya sedikit saja manusianya, kata demi kata mengalir begitu saja seperti air terjun tumpah dari angkasa. Kemudian kujanjikan kau 13 lembar puisi sebagai bukti aku serius dengan hubungan ini. Kau tersenyum malu, bibir merah jambu itu diam saja membatu karena tak ingin orang di sekitar tahu. Kemudian kepalamu perlahan mengangguk tanda setuju, dan resmilah kita memotong pita persahabatan kita sebagai tanda naik ke level selanjutnya, yaitu cinta.


Ah, 13 puisi, lelah sudah aku mencari kemana mereka selama ini. Sejak kau kembalikan kepadaku dulu saat cinta kita mulai berakhir, aku membuangnya begitu saja. Kini aku mencarinya dan ingin memungutnya lagi sembari mengenangmu yang kini telah pergi dengan pria lain yang kau sebut suami. Terakhir aku mendengar lembaran-lembaran itu menangis mengisi kepalaku. Mereka seperti anak kecil yang dipukuli rotan oleh guru ngajinya di sebuah musolah tua. Mungkin saja mereka sekarang sudah dengan pemiliknya yang baru, atau terkapar di sebuah tumpukan sampah yang siap dibakar. Malangnya kalian, andai saja pagi itu aku tak emosi, tentu kalian akan selalu rapi mengisi daftar puisi di map abu peninggalan ayahku dulu.

Hai kamu yang sekarang jadi istri orang. Apa kabarmu sekarang? Aku dengar kau sudah hamil besar? Siapa kelak nama bayi itu? Apakah kau akan memberikan nama seperti judul puisi ke 8 yaitu Okta? Pertanyaan-pertanyaan itu genap merasuki kepala. Mungkinkah kau sudah membuang jauh kisah cinta kita sejak lama. Tapi aku jelas tak akan pernah lupa. Kau adalah hal terindah yang membimbingku menuju remah roti yang bermuara ke hal-hal menakjubkan bernama cinta. Kau adalah ciuman pertama di pojok bangku sekolah saat kita lari dari upacara bendera. Dan kau yang mengajarkan aku bagaimana menyanyikan lagu ‘Kesempatan Kedua’ milik ‘Tangga’.

Kau mungkin saja sudah lupa dengan semua itu, tapi kau pasti menyimpan salinan 13 puisi itu. Kau adalah tipe perempuan penyimpan kenangan. Kau orang yang suka kejutan terhadap masa lalu yang menyimpan impian masa depan. Dan aku tahu itu sejak kau cerita dulu bahwa kau suka mencatat setiap detail pesan singkatku dalam diary putih mu. Salinan puisi itu pasti terselit di antara celah lamari kayu mu. Atau jika suami mu galak seperti serigala, kau pasti telah menguburnya dalam peti dan kau tandai dengan mawar merah di atasnya. Agar sekali-kali jika kau ingin mengulang lagi kisah itu kau tinggal menggali dan membacanya dengan air mata di pipi.

Sekian suratku. Jika kau berniat mengembalikan semua itu, cari saja aku di lini masa mu. Aku akan selalu menunggu itu.

Tertanda,

Mantan Pacarmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan (lagi...)

Negeri yang Gemar Berisik