Postingan

Suatu Malam di Entah Berantah

Jalanan masih basah karena hujan sore tadi. Hujan tentu tidak datang sendirian, dia juga membawa dingin. Matahari juga sudah mengucapkan selamat tinggal beberapa jam yang lalu dengan lambaian tangan berwarna jingga. Tak ketinggalan pelangi melengkung indah seperti membingkai bukit-bukit yang mulai tertutup awan dan embun. Sebuah orkestra indah mulai bergemuruh di langit gulita. Berdentam-berdentum tak jelas nada dan rima. Kemudian kilat mulai memainkan perannya; memberi warna berbeda, walau hanya sekelibat mata.

Celoteh di Antara 2 Tidur

Entah dimana aku sekarang, aku tidak begitu yakin. Apakah masih bermimpi, atau sudah kembali ke dunia nyata. Terakhir aku lihat bulan hanya sekedar mengintip di balik awan. Iya, seperti biasanya dia sangat pemalu. Mungkin juga karna tadi sore baru saja hujan. Lalu apa hubungannya dengan hujan dan malu? Nanti aku tanyakan lagi pada Bulan, sekarang aku lagi malas berbicara dengannya. Mungkin karena aku baru saja sadar dari 30 menit tidur berkualitasku. Berkualitas karena tanpa cahaya, udara dingin pegunungan, dan suara jangkrik yang bersenandung. Setidaknya itu waktu istirahat terbaikku selama setahun ini. Aku sedikit tenang, karena belum pernah aku merasakan damai di satu tahun belakangan. Aku selalu dirundung ketakutan, dan lebih menakutkan lagi karena tak jelas apa sebenarnya yang aku takutkan. Perasaan itu muncul begitu saja. Seperti ada kejutan-kejutan bodoh yang tak mengenakkan. Aku jengah, aku ingin tenang.

13. Puisi Lama

Suara itu… Seketika memecah sunyi pagi Mengalahkan kokokkan si jengger perwari Menghempas sepi bersama dentuman hujan yang jatuh dini hari.

12. Purnama ke Dua Belas

Bulan, Mudah saja bila kukatakan aku rindu. Tapi tentu rasa itu tak hanya 5 haruf jadi satu. Ada tanggung jawab besar yang akan aku pikul untuk bertemu. Dibawah lampu taman, tepat di malam minggu.

11. Rindu Itu...

Rindu itu satu kata dua suku kata. Singkat, tapi syarat makna. Pembatas sebuah pertemuan ke pertemuan berikutnya Penghubung dua jiwa yang tak mampu berjumpa Tempat berkumpulnya dua hal gila; harap dan takut.

10. Hujan (2)

Aku bohong tentangmu sore itu. Aku bohong tak menginginkan hadirmu. Aku bohong jika kau pengganggu. Aku bohong karna aku belum mengenalmu. Hujan datanglah lagi, Aku merayumu.

9. Hampa

Berbicara namun tak berkata. Melihat tapi tak bercahaya. Mendengar tapi tak bermakna. Menyentuh tapi tak terasa. Berjalan tapi tak berpindah. Aku hampa.