Suatu Malam di Entah Berantah
Jalanan masih basah karena hujan sore tadi. Hujan tentu tidak datang sendirian, dia juga membawa dingin. Matahari juga sudah mengucapkan selamat tinggal beberapa jam yang lalu dengan lambaian tangan berwarna jingga. Tak ketinggalan pelangi melengkung indah seperti membingkai bukit-bukit yang mulai tertutup awan dan embun. Sebuah orkestra indah mulai bergemuruh di langit gulita. Berdentam-berdentum tak jelas nada dan rima. Kemudian kilat mulai memainkan perannya; memberi warna berbeda, walau hanya sekelibat mata.