Suatu Malam di Entah Berantah

Jalanan masih basah karena hujan sore tadi. Hujan tentu tidak datang sendirian, dia juga membawa dingin. Matahari juga sudah mengucapkan selamat tinggal beberapa jam yang lalu dengan lambaian tangan berwarna jingga. Tak ketinggalan pelangi melengkung indah seperti membingkai bukit-bukit yang mulai tertutup awan dan embun. Sebuah orkestra indah mulai bergemuruh di langit gulita. Berdentam-berdentum tak jelas nada dan rima. Kemudian kilat mulai memainkan perannya; memberi warna berbeda, walau hanya sekelibat mata.


Entah katak atau kodok, sampai sekarang aku tidak tahu apa bedanya. Kumpulan itu sedang bernyanyi. Kali ini mereka sangat serius, suaranya rapi, dan terkesan dipaksakan. Apa yang mereka inginkan? Kata sebagian orang disini mereka memanggil hujan. Bagaimana jika hujan akhirnya tak muncul? Apakah mereka seperti mahasiswa yang demonstrasi menuntut diturunkannya harga Bahan Bakar? Lalu apa motivasi mereka terhadap hujan? Dan siapa yang peduli dengan semua pertanyaan barusan? Cuma aku? Oke, aku juga tak mau peduli. Eh, Mereka tidak capek begitu terus? Bodoooo amat... -__-

Prookkk, baru saja buah durian jatuh dari pohon yang ada di pekarangan. Dua – tiga orang berhamburan menuju datangnya suara. Menguji insting pendengaran dan penciuman mereka. Anehnya tidak ada dari mereka yang membawa cahaya untuk mencarinya. Hebat sekali, atau bodoh sekali. Aku hanya tertawa ketika salah satu dari mereka membawa buah dengan cangkang berduri tersebut. Orang yang juga ikut mencari dan kalah dari perburuan tadi juga ikut duduk disini, menyantap buah yang baru saja mereka rebutkan seperti trophy. Dalam hatiku bertanya, lalu apa gunanya mereka berlari seperti dikejar setan dan berebut seperti tak makan setahun kalo akhirnya dibuka dan dimakan sama-sama? Sebuah pertanyaan lagi, dan kembali siapa yang peduli? Cuma aku, iya cuma aku.

Hening tanpa suara. Begitulah suasananya. Aku baru saja selesai sholat Isya berjamaah, tapi di sini seperti tegah malam saja. Dari jauh terdengar raungan televisi rumah tetangga yang ratusan meter jaraknya. Disini televisi jadi barang mewah. Hanya orang dengan level “berkecukupan” yang bisa memilikinya. Bukan karena harganya, melainkan sebuah energi yang harus dikeluarkannya. Tak kurang 50 ribu rupiah setiap malam harus dimakan untuk menghidupkan mesin yang bisa membuat lampu bercahaya dan televisi itu bernyawa. Suaranya bahkan mengalahkan dialog yang ada di layar kaca. Mungkin orang-orang disini belajar memahami percakapan melalu gerak bibir saat berkata. Diam-diam aku mulai bertanya dalam hati, apakah mereka mengerti dan paham jalan ceritanya? Siapa yang peduli? Ini hiburan. Menikmati orang berlakon di dalam kaca lebih nikmat dibanding menatap pelita di dalam rumah.

Ketika kami masih menikmati durian yang jadi rebutan tadi, tiba-tiba datang seorang lagi menggenggam leher ayam. Aku setengah terkejut ketika ku lihat ayam itu masih bernapas. Dia kemudian meminta aku untuk menjagal ayam itu, tentu saja ini penghormatan terhadap perbedaan keyakinan. Aku bahkan menawarkan diri untuk menguliti dan membersihkannya. Sebagian dari mereka kembali memasuki pekarangan yang dipenuhi pohon durian dan keluar dengan ranting yang lumayan besar. Api mulai dinyalakan. Selesai ku sirami bumbu ala kadarnya, ayam itu memasuki fase dalam penting hidupnya; menyerahkan raga untuk dikonsumsi manusia. Setengah gosong ayam itu dikeluarkan dari api beberapa menit kemudian. Dan aku kembali terpana bagaimana mereka membagi ayam ini sama rata. Daging dan tulangnya dipisahkan, tulangnya dilempar kepada anjing yang daritadi diam dipojokkan sedangkan daginya dicincang halus dengan pisau. Makannya menggunakan saos yang dibuat dari campuran cuka, cabe rawit yang dipotong halus, dan kecap manis. Sedikit ragu aku mencoba, dan memasukkannya diantara gigi tupaiku. Enak! Dan aku tak peduli pada anehnya bentuk makanan ini.

Salah satu yang paling aku pedulikan disini adalah sebuah teko besar dengan air bening yang tadinya penuh terisi dan sekarang tinnggal setengah. Di dasar teko itu ada banyak dedaunan kecil seperti rempah-rempah. Ramuan menghangatkan tubuh yang dinamakan “arak” ini sedari tadi mengisi gelas di hadapanku. Ada hasrat ingin membelai gagangnya dan mencium bibir cangkirnya, namun aku tahan. Sudah lama sekali aku tak meneguk benda seperti ini lagi. Mereka juga tidak memaksa, karena sebagian dari mereka sadar aku sudah berubah. Dan tak perlu jadi gila untuk bisa bernostalgia. Cukup dengan cerita, kemudian sebuah epilog yang memecahkan sebuah tawa. Tawa yang sangat lama, bahkan sampai sebagian dari mereka tak mampu mengangkat mata, mereka masih saja tersenyum gembira.


Pertanyaannya, siapa yang peduli dengan kami? Cuma aku, dan untuk itulah aku menuliskannya, supaya tidak lupa.

Komentar

  1. Whuaaa, aku bisa membayangkan suasana di sana yang hangat dan kekeluargaan. Menangkap momen dan mengabadikannya dalam tulisan. Menjadi peka terhadap apa dan siapa pun yang ada di sekitar, kenapa tidak?

    Hei, aku juga peduli kok! :)

    BalasHapus
  2. Hei cappucino. Ahahaha. Lama tak duduk berdua lagi untuk sekedar ngopi. Mungkin malam ini. *senyum pasta gigi*

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan (lagi...)

Negeri yang Gemar Berisik