Ada rinai yang jatuh membawa derana dari langit yang kelelahan. Ia mengetuk genteng, lalu menyelinap ke dada yang belum selesai belajar kehilangan. Desember datang dengan petir yang pandai membuka luka. Mengubur harap hingga akar-akarnya, menyisakan tanah yang enggan ditumbuhi bahagia. Hujan, mengapa kau selalu memilih waktu ketika aku hampir berhasil melupakan? Kau siram jalan-jalan yang pernah kami lewati, kau basahi bangku yang pernah kami duduki, lalu kau pulangkan semua yang telah susah payah kukuburkan sendiri. Aku pria merdeka yang kehilangan rumah karena terjajah derita. Sedang menata hati yang porak poranda sejak dia pergi. Namun kau datang membawa bau tanah, membawa suara, membawa segala yang dulu kupanggil "kita." Lalu mimpi-mimpi itu kau asah menjadi sembilu. Menusuk perlahan, tanpa darah, tetapi lebih perih daripada luka yang terlihat. Hujan, hari ini aku tidak membencimu. Aku hanya membenci kenyataan bahwa setiap kali kau turun, nam...
Assalamualaikum Wr. Wb. Selamat pagi (sesuaikan saja waktunya) dan salam sejahtera untuk kita semua. Apa kabar? (Jangan dijawab dengan “luar biasaaaa”, karena ini bukan presentasi MLM, hehehe)
P agi belum benar-benar jadi pagi Ketika layar telepon lebih dulu mengabarkan siapa yang ditangkap, siapa yang menyangkal, dan siapa yang kembali menggelar konferensi pers. Aku menyeduh kopi. Rasanya masih sama. Yang berubah hanya berita yang setiap hari berlomba menjadi lebih aneh. Di negeri ini, koruptor kadang lebih sering muncul daripada petani. Pejabat lebih pandai menjelaskan daripada mendengarkan. Sedangkan rakyat, tetap setia menghafal cara bertahan hidup. Aku membuka jendela. Burung-burung masih berkicau. Barangkali mereka belum mengenal siaran langsung. Atau mungkin mereka sengaja tak mau ikut rapat. Di televisi, seorang pemimpin kembali berbicara. Kalimatnya panjang. Tepuk tangannya lebih panjang. Aku mencoba mengerti. Barangkali yang kurang bukan telingaku, melainkan keberanian untuk bertanya. Harga-harga naik perlahan. Harapan turun diam-diam. Lucunya, yang paling sering diminta tetap satu: "Sabar." Seolah sabar bisa ditanak menjadi nasi. Seolah ikhlas bisa dibay...
Komentar
Posting Komentar