Celoteh di Antara 2 Tidur
Entah dimana aku sekarang, aku tidak begitu yakin. Apakah
masih bermimpi, atau sudah kembali ke dunia nyata. Terakhir aku lihat bulan
hanya sekedar mengintip di balik awan. Iya, seperti biasanya dia sangat pemalu.
Mungkin juga karna tadi sore baru saja hujan. Lalu apa hubungannya dengan hujan
dan malu? Nanti aku tanyakan lagi pada Bulan, sekarang aku lagi malas berbicara
dengannya. Mungkin karena aku baru saja sadar dari 30 menit tidur
berkualitasku. Berkualitas karena tanpa cahaya, udara dingin pegunungan, dan
suara jangkrik yang bersenandung. Setidaknya itu waktu istirahat terbaikku
selama setahun ini. Aku sedikit tenang, karena belum pernah aku merasakan damai
di satu tahun belakangan. Aku selalu dirundung ketakutan, dan lebih menakutkan
lagi karena tak jelas apa sebenarnya yang aku takutkan. Perasaan itu muncul
begitu saja. Seperti ada kejutan-kejutan bodoh yang tak mengenakkan. Aku
jengah, aku ingin tenang.
Tadi pagi aku hapus salah satu jejaring sosial yang paling
aktif aku gunakan. Mungkin karena itu akhirnya aku tidak lagi nomophobia. Beberapa jam pertama bisa
ditahan, beberapa jam berikutnya mulai gelisah, dan sekarang hasrat untuk
mengunduh aplikasi itu mulai berkecamuk di kepala. Seakan ada perang antara “Unduh
Sekarang” vs “Biarkan saja dulu”. Aku tidak tahu siapa yang bakalan menang,
semoga mereka berdamai apapun hasilnya. Karena sesungguhnya mereka memilih
medan pertempuran yang salah. Kepala ini ingin istirahat, otak ini ingin
liburan, bisakah kalian tidak mengganggu? Dan sekarang aku mulai terlihat gila.
Hari ini kulalui hanya dengan tertidur, rasa penasaran
dengan telpon genggam masih mengganggu tidurku, selepas makan siang aku
memberanikan diri melihat keadaanya, sengaja baterainya tak kuisi agar mati
saja dia. Benar saja, sisa 2% nyawanya. Dan yang lebih mengherankan ada 17
panggilan dengan nama yang sama. Dia adalah Bos besar di sekolah yang kecil.
Mengapa aku bilang kecil, karena sekolah ini adalah sekolah dengan murid paling
sedikit di Kabupaten. Kurang dari 30 siswa. Jangan tanya mengapa dia
menelponku, tentu saja berkeluh kesah. Seakan hanya aku anak buahnya. Padahal
ada 4 orang lagi bawahannya yang bisa dia hubungi selain aku. Mungkin karena
aku ngangenin, atau aku yang paling ngeselin. Atau mungkin aku kolaborasi
keduanya, sehingga tak ada orang lain yang bisa mendengarkan emosi dia yang
kadang baik dan kadang buruk. Aku selalu berpikir baik, mungkin itu anugrah
sehingga dia selalu percaya. Padahal aku ini pembual nomor 1. Begitulah
setidaknya aku.
Dan hei, aku baru saja membuka akun surat elektronikku. Ada
banyak pesan yang sering aku abaikan. Kebanyakan tentang dunia sosial masyarakat
yang dulu sering aku geluti, dan beberapa bulan terakhir mulai aku tinggalkan.
Bukan bosan, mungkin saja aku sedang ingin fokus dengan pekerjaanku. Itu alasan
yang sering aku katakan, padahal masalah di dalamnya sangatlah kompleks.
Intinya mungkin aku sedang berlari, meninggalkan dunia yang telah membesarkan
namaku, kemudian juga mulai menjatuhkan aku beberapa bulan lalu. Atau mungkin
aku sedang me-restart ulang jiwaku. Menggumpulkan semangat untuk beberapa hal
baru yang mungkin akan membuat gairah hidupku kembali. Aku rasa beberapa minggu
belakangan sudah banyak kejutan yang kudapatkan. Mungkin ini bakal jadi bekal
menapaki hari di tahun depan.
Ingin sekali aku tutup mata kemudian bangun dan sudah berada
di Januari. Entahlah, mungkin aku sudah lelah dengan drama di tahun ini. Aku
ingin bangkit, dan momen pergantian tahun seharusnya bisa dijadikan lonjakan
dan letupan agar bisa bergerak ke arah lebih baik. Kalo di ingat betapa
melelahkannya tahun ini. Banyak hal istimewa, tapi tak sedikit pula berakhir
sebagai musibah. Ada cinta dan tentu saja duka. Bahagia dan tercela adalah
realita yang sudah hadir dan bergantian menghampiri di depan mata.
Dan hei, aku baru saja bangun beberapa menit yang lalu. Apa
yang baru saja aku tulis terbaca seperti sebuah curhat. Jangan di anggap
serius, mungkin aku sedang mengigau.
Komentar
Posting Komentar