Postingan

Mungkin Cuma Bercanda

Bagaimana cara menggambar perasaan yang lara? Seminggu sudah mata memerah Tidur ala kadarnya Entah Masa depan begitu sulit diterka Hati terlalu takut berencana Akhirnya tak ada jalan lain selain meminta Di kutuk malam dalam lirih Memohon ampun, seraya berdoa Tuhan, mudahkanlah Di ujung aksara kau bercerita Ibu sudah mulai gelisah Siapa, kapan, dan bagaimana? Aku kelu Sesekali hanya bisa tertawa Diam adalah terbaik selama ini Sabar Begitukah? Aku hanya bisa yakinkan Namamu tak pernah alpa dalam doa Sekalipun itu cuma meminta kau untuk sabar adanya Seringkali aku terkesan memaksa Jika engkau ingin pergi jauh Tolong bilang dulu Karena hatiku tak seketika ungu setelah merah membiru Aku rindu Dan bilang pada Ibumu Sabarlah menunggu Jika bukan aku, ada pria lain di atas pelaminan itu Pastikan saja, dia harus seribu kali lebih lucu daripada aku Karena jika dia tak bisa membuatmu tertawa Dia punya masalah denganku

Surat untuk Pejuang Nasi

Assalamualaikum Wr.Wb. Selamat malam dan salam damai sejahtera bagi kita semua. Tiada kalimat yang lebih pantas saya ucapkan selain "Terima kasih telah berjuang sampai sejauh ini."

Sebelum Cahaya

Pernahkah kau merasa bersedih ketika rindu, namun untuk sekedar bermuram saja kau tak bisa, entah kelainan atau memang keanehan, aku sedang mengalaminya. Semalaman aku hanya terbaring di atas ubin menatap langit-langit rumah yang belum di tutupi plafon. Bolak-balik melihat hp pinjaman berwarna merah jambu untuk mencari playlist lagu kenangan; Banda Neira masih menjadi penyiksa terbaik selama ini. Liriknya masih bisa membius dalam kepedihan. Tapi lama-kelamaan aku mulai kebal, kucoba mencari lagu lain. Sampai kutemukan suaramu dalam kumpulan recorder yang sengaja aku rekam ketika kita berbicara lewat telpon. Lunas sudah penderitaan malam ini. Semuanya dibayar dengan telak tanpa tedeng aling-aling. Begitukah?

Aku Merindumu secara Membabi Buta

Tak ada sunyi yang abadi tanpa dipeluk puisi. Rindu ku subur disiram diksi demi diksi yang menari dalam ruang imaji. Katakanlah wahai Puan penunggang malamku yang lirih: bahagiakah kau menyiksaku lewat senyum yang kau batasi tak kurang dari 7 senti? Aku menuntut kau bertanggung jawab atas semua kebodohan ini; bodoh karena terjaga, bodoh karena mau-maunya dijajah rasa gila karena sebelum tidur kau berkata - aku rindu, itu saja. Aku geram karena kau tak paham sebab tangan ini keram dan ingin menggenggam.

Sebuah Rindu dalam Waktu

1. Empat meter di hadapanku, malam pukul tujuh, sebuah kantin yang riuh. Aku masih ingat saat itu. Kita dipertemukan sekumpulan raga, tak banyak kata kecuali gelak tawa dalam dogma. Aku bersama cangkir kopi dengan gula, dan aku lupa kau memesan apa. Aku hanya kagum, ternyata ada wanita dengan atasan batik dan bawahan kain yang suka terenyum, menyembunyikan lelah setelah jauh menjelajah. Aku tegaskan sekali lagi, aku hanya kagum, tidak lebih. Selang beberapa waktu, kau akhirnya berlalu. Di dadaku bersarang sesuatu, kelak ku tahu namanya rindu. Masih kecil, satu per seribu.

Untitled

Purnama belum genap menuju sepuluh, tapi engkau sudah terasa jauh. Engkau sibuk berbenah rumah, aku sibuk mengatur rindu, Pilu disapu hujan malam Sabtu. Masa lalu sudah mengkhianati aku sejak lama, jauh sebelum kamu menampakkan muka. Aku sangat tidak ikhlas jika Dia meminta kita berjalan sendiri-sendiri. Aku belum siap jika harus menyeka wajah setiap hari sampai mati. Aku tak sanggup membakar semua puisi demi elegi. Aku tidak ingin, sungguh aku tak mau. Aku masih menunggu, Dalam diam, dalam sepi,

I Stand by You (3)

Gambar
“Ikatan iman yang paling teguh ialah setia kawan demi Allah dan berkonfrontasi demi Allah, kasih demi Allah, benci pun demi Allah.” (Riwayat Tayalasi, Hakim, Tabarani fi al-Kabir dan al-Ausat, Ahmad, Ibn Abi Syaibah, dan Ibn. Nasr)