Kerudung Biru yang Membuat Rindu Teguh
Assalamualaikum ukhti,
Perkenalkan, namaku Andy. Kita pernah bertemu sekali. Aku pria dengan baju kotak-kotak berwarna ungu pada suatu minggu di rumah sakit Provinsi itu. Jika kau mengingatnya, syukurlah. Jika tidak, itu tidak menjadi masalah, cukuplah kau tahu namaku saja. Karena semua itu tidak ada hubungannya dengan seberapa dekat kita, atau pun hubungan kau dan aku nanti.
Kau mungkin sudah mengenal temanku. Dia yang selalu membuat ponselmu berdering dengan pesan-pesan gombalnya. Percayalah, itu bukan gombal. Dia bukan tipe lelaki penyair, dia tipe lelaki jujur apa adanya. Kau akan mengenalnya jika kalian saling bertukar cerita dengan secangkir cappucinno hangat nanti. Dia bukan seorang yang banyak bicara. Ketika bersamaku, dia lebih memilih memainkan game di perangkat layar sentuhnya daripada mendengarkan ide gilaku untuk menguasai dunia. Tapi aku yakin ketika denganmu dia hanya akan menatap matamu. Walau dia tahu menatap mata seseorang yang bukan muhrim adalah dosa. Setidaknya itulah dosa terindah yang selalu dia impikan.
Hai ukhti, tahu kah kau kalau beberapa hari belakangan ini dia sedikit gila. Dia selalu terobsesi dengan semua hal yang berwarna biru. Dan aku yakin, itu semua karena kerudung yang kau gunakan saat perjumpaan pertama dulu. Memang cinta pada pandangan pertama selalu menyergap korbannya tanpa ampun, bahkan bisa merusak sel-sel otak yang isinya mimpi masa depan. Terakhir aku melihat dia menggunakan kemeja flanel biru, jeans biru, mengganti casing ponselnya dengan warna biru dan mengecat rambutnya berwarna biru (hahaha, tentu saja aku bercanda, dia tak se-ekstrim itu).
Tadi malam dia bercerita tentang kerinduannya padamu. Tentang bagaimana wajahmu yang bulat dengan kacamata lebar itu tersenyum pertama kali untuknya. Tentang bagaimana pertama kali kau mengulurkan tanganmu dan menyebutkan namamu. Tentang bagaimana cinta itu mulai tumbuh begitu saja tanpa satu pun gejala. Tentang bagaimana caranya untuk bisa berjumpa denganmu dalam kesempatan yang sama. Karena dia ragu jika melihatmu untuk kesekian kalinya, rindu itu tidak seperti nikmat perjumpaan pertama.
Teguh Sarwo Eddy, itulah nama lengkapnya. Kau pasti sudah mengetahuinya. Dia tidak mungkin mengaku bernama Michael (kerena memang tak pantas) atau Sarpawi (yang ini mungkin lebih cocok). Dia juga pasti tidak mengaku punya mobil, walaupun dia selalu kemana-mana dengan roda empat. Wajar saja, temanku ini hanya seorang driver. Tapi tenang, kemanapun arah tujuanmu, dia selalu siap-antar-jaga. Bahkan mengantarmu ke pelaminan, walau bukan dia yang bersanding denganmu. Begitulah dia, sakit hati baginya sudah biasa. Bahkan kepedihan yang kau ciptakan adalah rahmat yang sangat disyukurinya.
Dia mungkin saja tidak lebih hebat dari pacarmu sebelumnya. Dia mungkin tidak punya kereta ber-pedal 3. Dia juga tidak punya rayuan maut seperti Casanova. Tapi dia telah meruntuhkan segala keraguan yang ada. Dan seperti namanya, keyakinannya padamu se-Teguh tugu khatulistiwa.
Perkenalkan, namaku Andy. Kita pernah bertemu sekali. Aku pria dengan baju kotak-kotak berwarna ungu pada suatu minggu di rumah sakit Provinsi itu. Jika kau mengingatnya, syukurlah. Jika tidak, itu tidak menjadi masalah, cukuplah kau tahu namaku saja. Karena semua itu tidak ada hubungannya dengan seberapa dekat kita, atau pun hubungan kau dan aku nanti.
Kau mungkin sudah mengenal temanku. Dia yang selalu membuat ponselmu berdering dengan pesan-pesan gombalnya. Percayalah, itu bukan gombal. Dia bukan tipe lelaki penyair, dia tipe lelaki jujur apa adanya. Kau akan mengenalnya jika kalian saling bertukar cerita dengan secangkir cappucinno hangat nanti. Dia bukan seorang yang banyak bicara. Ketika bersamaku, dia lebih memilih memainkan game di perangkat layar sentuhnya daripada mendengarkan ide gilaku untuk menguasai dunia. Tapi aku yakin ketika denganmu dia hanya akan menatap matamu. Walau dia tahu menatap mata seseorang yang bukan muhrim adalah dosa. Setidaknya itulah dosa terindah yang selalu dia impikan.
Hai ukhti, tahu kah kau kalau beberapa hari belakangan ini dia sedikit gila. Dia selalu terobsesi dengan semua hal yang berwarna biru. Dan aku yakin, itu semua karena kerudung yang kau gunakan saat perjumpaan pertama dulu. Memang cinta pada pandangan pertama selalu menyergap korbannya tanpa ampun, bahkan bisa merusak sel-sel otak yang isinya mimpi masa depan. Terakhir aku melihat dia menggunakan kemeja flanel biru, jeans biru, mengganti casing ponselnya dengan warna biru dan mengecat rambutnya berwarna biru (hahaha, tentu saja aku bercanda, dia tak se-ekstrim itu).
Tadi malam dia bercerita tentang kerinduannya padamu. Tentang bagaimana wajahmu yang bulat dengan kacamata lebar itu tersenyum pertama kali untuknya. Tentang bagaimana pertama kali kau mengulurkan tanganmu dan menyebutkan namamu. Tentang bagaimana cinta itu mulai tumbuh begitu saja tanpa satu pun gejala. Tentang bagaimana caranya untuk bisa berjumpa denganmu dalam kesempatan yang sama. Karena dia ragu jika melihatmu untuk kesekian kalinya, rindu itu tidak seperti nikmat perjumpaan pertama.
Teguh Sarwo Eddy, itulah nama lengkapnya. Kau pasti sudah mengetahuinya. Dia tidak mungkin mengaku bernama Michael (kerena memang tak pantas) atau Sarpawi (yang ini mungkin lebih cocok). Dia juga pasti tidak mengaku punya mobil, walaupun dia selalu kemana-mana dengan roda empat. Wajar saja, temanku ini hanya seorang driver. Tapi tenang, kemanapun arah tujuanmu, dia selalu siap-antar-jaga. Bahkan mengantarmu ke pelaminan, walau bukan dia yang bersanding denganmu. Begitulah dia, sakit hati baginya sudah biasa. Bahkan kepedihan yang kau ciptakan adalah rahmat yang sangat disyukurinya.
Dia mungkin saja tidak lebih hebat dari pacarmu sebelumnya. Dia mungkin tidak punya kereta ber-pedal 3. Dia juga tidak punya rayuan maut seperti Casanova. Tapi dia telah meruntuhkan segala keraguan yang ada. Dan seperti namanya, keyakinannya padamu se-Teguh tugu khatulistiwa.
Terima kasih kakak.
BalasHapus