Kotak Emosi Astrajingga
Kotak Emosi Astrajingga. Aku melihatmu beberapa tahun yang
lalu saat aku masih abu. Deretan kata demi kata yang tak rapi itu mengundangku
lebih dalam untuk tahu pemiliknya. Mulailah jari menari diantara tumpukan
aksara di muka layar datar 14 inch. Kutemukan kau hampir membusuk oleh ceritamu
sendiri yang hingga saat ini tak direstui. Kau semacam elegi yang tak
berdengung di pagi hari. Hidupmu tertuang dalam bait demi bait cerita usang
yang kadang-kadang mengerang mengundang belas kasihan. Kau adalah salah satu
kisah yang aku kasihani sekaligus iri, mengapa bukan aku saja yang mengalami
sehingga aku bisa terdampar ke pulau puisi?
Kak Edoy, boleh aku panggil begitu? Aku sendiri tidak pernah
tahu siapa nama lengkapmu. Kau hanya wara-wiri di lini masaku yang biru. Lagipula
tak penting siapa nama di balik pemilik kata-kata indah pujangga itu. Aku hanya
mengagumimu seperti bocah yang menunggu hujan ketika mereka bermain di panas
yang terang. Namaku Andy, kau tahu itu. Nama yang cukup familiar untuk orang
Indonesia. Apalagi jika kau ke Makassar atau tanah Sulawesi sana, kau akan
menemukan banyak Andi bertebaran di seantero negeri. Bagi kami suku Bugis, Andi
adalah gelar kebangsawanan.Tapi sejak kecil aku mulai bertanya dalam hati, apa
yang diperbuat bangsawan di perkampungan kecil pinggir kota rawa Pontianak ini?
Ketika aku bertanya pada Ibu tentang itu, dia selalu geli tertawa.
Kau memang tak mengajakku secara langsung untuk ikut
terlibat dalam #30HariMenulisSuratCinta, Tapi tulisanmu di hari pertama ujung
Januari itu seakan menggoda; “Ayo mulai tuliskan! Jangan sok sibuk dengan
kerjaan! Dasar Pengangguran!”. Dan akhirnya aku mulai mencoba dan mulai
meraba-raba. Walau hasilnya tak sebagus karyamu yang sudah level dewa, aku
cukup puas dengan angka 5 yang aku berikan sendiri. Terima kasih sudah mau
menjadi inspirasi Kak, terima kasih juga membiarkanku membaca tulisanmu, dan
maap ada sedikit karyamu yang sengaja aku tiru demi memoles tulisanku agar
lebih baik lagi.
Sudahlah Kak, aku cukupkan saja suratku ini, aku malu
sebenarnya mengirimkan ini ke seorang maestro kata-kata. Kau pasti tersenyum
karena suratku tak sebagus apa yang kau bayangkan. Aku hanya pemula Kak, dan
mohon bimbingi aku. Terakhir, bolehkah aku mengangkatmu menjadi Suhu?
Terima kasih telah membaca surat pendek ini,
Dari Aku yang diam-diam mengagumimu.
aaak Andi, terimakasih.
BalasHapusaku senang sekali kalau tergugah untuk menulis karena membaca posting blogku. aku juga masih belajar menulis dengan terus membaca buku. aku senang sekali, tunggu aku akan membalas suratmu secepatnya.
Terima kasih mas, semoga Tuhan mempertemukan kita nanti, banyak yang ingin aku tanyakan sembari meneguk kopi. Aku tunggu surat balasanmu.
Hapus